BANDA ACEH Museum Tsunami Aceh akan membuka secara resmi Pameran Temporer bertema Nelayan dan Tsunami Aceh dengan judul Kehidupan Nelayan pasca Tsunami 2004 malam…
BANDA ACEH Museum Tsunami Aceh akan membuka secara resmi Pameran Temporer bertema Nelayan dan Tsunami Aceh dengan judul Kehidupan Nelayan pasca Tsunami 2004 malam ini (3/5). Selain itu, Pameran Foto Pesona Aceh yang diprakarsai oleh Birokrat Fotografer Club (BFC) dan Museum Trip at Night (museum dibuka khusus pada malam hari) turut diselenggarakan bersamaan dengan berlangsungnya pembukaan Pameran Temporer ini.
Kami rencanankan insyaallah dibuka secara resmi oleh Pemerintah Aceh, dalam hal ini mungkin akan diwakilkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, disertai dengan beberapa penampilan seni budaya dan gunting pita peresmian pameran temporer bertema nelayan yang akan digelar mulai malam ini sampai 14 Mei 2017 nanti, ungkap Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal, STTP,. M.Si.
Acara ini dibuka dari pukul 19.30 22.00 WIB dan diperuntukkan untuk masyarakat luas tanpa dipungut biaya apapun. Segala persiapan acara pun telah dirampungkan oleh panitia pelaksana dan penanggungjawab pameran temporer.
Kami mengundang seluruh masyarakat untuk turut hadir memeriahkan pembukaan pameran temporer ini sekaligus menikmati trip kunjungan Museum Tsunami Aceh malam nanti, tambah Almuniza.
Dalam pameran tersebut akan ditampilkan kurang lebih 32 jenis koleksi berkenaan dengan kehidupan nelayan, video saksi hidup nelayan yang selamat dari musibah tsunami, sejarah mengenai panglima laot, dan media edukatif mitigasi bencana gempa dan tsunami.
Pameran ini mengkisahkan tentang jejak Panglima Laot sejak zaman Pemerintahan Samudera Pasai Abad ke 14 dengan menghadirkan empat tokoh Amirul Bakri (Panglima Laot) diantaranya Syahbandar Mutabar Khan (1734), Teuku Umar (1854) , Syahbandar Gieging (1879), dan Teuku Maharaja Teluk Samawi (1880), ujar Cut Intan Damayanti, Penangungjawab Kegiatan Pameran Temporer Museum Tsunami Aceh.
Sekarang ini Aceh telah bangkit dari segala luka dan kesedihan. Begitu juga dengan nelayan Aceh, mereka telah bangkit dari musibah tsunami 2004. Saat ini Aceh sedang bergerak untuk melangkah dan menata kembali kehidupan yang pernah hancur dalam kesedihan dan kedukaan yang cukup dalam. Bukan hanya untuk mengembalikan yang lama, tetapi juga sekaligus membangun yang baru dengan lebih baik. Untuk itu perlu kita tampilkan kisah-kisah mereka agar menjadi pembelajaran bagi generasi muda untuk lebih siap menghadapi bencana yang mungkin akan datang kapan dan dimana saja, tambah Cut Intan.[] (rel)