Pada Oktober 2013 penulis mengunjungi Trumon. Selama beberapa hari menginap di rumah Teuku Raja Aceh dan ayahnya Raja Ubit, raja Trumon saat itu, di Keudee Trumon, Aceh Selatan.
Pada awal 2015, bersama peneliti independen asal Istanbul, Turki, Dr Mehmet Ozay, selama lima hari, penulis melintasi lagi pantai Barat Selatan Aceh.
Perjalanan ini merupakan tinjauan lembaga antarabangsa Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT) untuk memetakan wilayah kebudayaan di Aceh. Sepulang dari Singkil, kami disambut oleh Teuku Raja Aceh, dan menginap selama semalam di rumahnya.
Sebuah benteng masih berdiri kukuh di tepi pantai gampong Keudee Trumon, Aceh Selatan. Di sana masih ada artefak berupa masjid, makam bernisan khas Aceh Darussalam milik raja Trumon, mata uang tembaga dan bendera Trumon, serta surat Belanda.
Teuku Raja Aceh dan ayahnya menceritakan sejarah Negeri Trumon. Memang, selain mereka, ada beberapa orang yang menyebutkan sejarah negeri ini. Di antaranya terdapat di laman yusmarwandi.blogspot.com.
Riwayat Kerajaan Negeri Trumon
Raja Trumon merupakan turunan Ja Thahir yang berhijrah dari Baghdad menuju Asia Tenggara. Ia menetap di Batee, Pedir, Aceh. Kata Ja berasal dari kata Khoja sebuah sebutan penghormatan dalam masyarakat Turki.
Apabila dilihat dari asalnya, Baghdad, yang merupakan tempat hunian bangsa Persia, Ja Thahir merupakan turunan Persia. Namun julukan Ja, menunjukkan ia sebagai turunan Turki. Hal ini perlu diteliti ulang.
Ja Thahir punya beberapa orang anak, di antaranya Ja Abdullah, di Batee, Pidie. Ja Abdullah punya anak bernama Ja Johan, di Tanoh Abee Seulimum. Ja Johan punya anak bernama Teungku Jakfar yang belajar pada Teungku di Anjong di Peulanggahan, Banda Aceh.
Teungku Di Anjong merupakan seorang ulama Aceh turunan Turki. Ia mendiami gampong Peulanggahan, Banda Aceh. Di gampong ini pula makamnya berada. Di sisi makam itu terdapat sebuah mesjid yang dibangunnya semasa hidup.
Setelah meyakini Jakfar siap dijadikan juru dakwah yang handal, Teungku Di Anjong mengutusnya ke pantai Barat Selatan Aceh. Dalam perjalanan, Jakfar menetap di Ujong Seurangga, Susoh. Di sana ia mengajarkan penduduk dan dipanggil Labai Jakfar.
Kemudian ia menuju Singkil dan menetap di sana. Ia menguatkan masyarakat di pemukiman Paya Bakong, Teluk Abon, Rantau Gedang, Paya Bombong, dan Teluk Rumbia. Di daerah ini ia dijuluki Teuku Raja Singkil atau Teungku Singkil.
Setelah beberapa pemukiman menguat dalam bidang pertanian, dagang, agama, dan perang, Jakfar membuka kebun lada di dataran sebelah utara Singkil. Daerah ini kemudian disebut Trumon dengan kebun ladanya yang subur dan luas. Jakfar pun kaya raya sebagai pengusaha lada.
Trumon pun kian maju. Pada tahun 1780 Masehi, Jakfar mengumumkan bahwa Kerajaan Negeri Trumon telah berdiri. Ia sendiri sebagai rajanya. Rumahnya sebagai istana, Keudee Trumon sebagai ibu kota.
Kerajaan Trumon membeli armada kapal pengangkut lada ke luar negeri. Dari hari ke hari, kerajaan ini pun kian dikenal. Mengetahui hal ini, Belanda mulai mendekati Trumon sebagai usaha memecah wilayah Aceh Darussalam dan menguasai negeri di sekeliling pusatnya.
Pada tahun 1812 Jakfar wafat, digantikan oleh anaknya yang ke enam, Teuku Raja Bujang. Pada masanya Kesultanan Aceh Darussalam mengakui Trumon sebagai negeri lindungannya. Namun pada 17 Maret tahun 1824 Trumon membuat perjanjian dengan Belanda.
Pada 4 Desember 1824 sebuah kapal perang Aceh di bawah pimpinan Pang Dimarah yang dibiayai Trumon, menyerang benteng Belanda, Port Tapanuli, di Pulau Poncan.