TERKINI
SPORT

Situs Benteng Indrapatra Terkesan ‘Ditinggalkan’

KRUENG RAYA - Kondisi jalan menuju lokasi situs Benteng Indrapatra, Aceh Besar, memprihatinkan. Jalan berdiameter kurang lebih 3,5 meter ini rusak parah. "Sudah beberapa kali…

MURDANI ABDULLAH Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

KRUENG RAYA – Kondisi jalan menuju lokasi situs Benteng Indrapatra, Aceh Besar, memprihatinkan. Jalan berdiameter kurang lebih 3,5 meter ini rusak parah.

“Sudah beberapa kali diukur dan dikeruk jalannya, tapi nggak pernah dikerjakan,” ujar Irfan Syauki, 18 tahun, warga Dusun Indrapatra, Gampong Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, menjawab portalsatu.com di lokasi Benteng Indrapatra, Kamis, 20 April 2017.

Dia menyebutkan, kawasan wisata dan budaya Indrapatra saban akhir pekan ramai dikunjungi wisatawan. Di antara wisatawan yang bertandang ke sana, selain untuk menikmati pesona pantai juga ada yang napak tilas di situs benteng.

Seperti diketahui, Indrapatra merupakan satu dari tiga bangunan kuno yang diduga sudah ada sejak sebelum lahirnya Kerajaan Aceh Darussalam. Selain Indrapatra, di Aceh Besar juga terdapat benteng Indrapuri di Indrapuri, dan benteng Indrapurwa di Lambadeuk, Aceh Besar.

Besar kemungkinan, ketiga benteng ini seusia dengan Kerajaan Lamuri yang ada di perbukitan Lamreh, Aceh Besar. Jika ditarik garis lurus menggunakan citra satelit, antara ketiga benteng tersebut akan membentuk segitiga. Ketiga benteng ini kemudian konon disebut sebagai pusat wilayah Kerajaan Aceh Darussalam: Aceh Lhee Sagoe. (Baca juga: Indrapatra Budaya Peninggalan Turki Utsmany?)

Sayangnya, nasib bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh wilayah kerja Provinsi Aceh dan Sumatera Utara ini terkesan tak terurus. Selain akses jalan yang kurang nyaman dilalui, di kawasan situs ini juga tidak tertera pos pemandu wisatawan. 

Padahal, sejurus amatan wartawan di area dalam kawasan situs Benteng Indrapatra ini juga terdapat bangunan serupa kantor yang berada tepat di pintu gerbang. Namun, kantor tersebut sudah rusak dan tidak berfungsi. Jendela-jendela kantor juga terlihat raib entah kemana. Di dalam salah satu ruang kantor tersebut terlihat beberapa karung pupuk berjajar rapi.

Selain itu, akses penghubung berupa titi penyeberangan yang berada tepat di depan situs Indrapatra juga terlihat rusak. Informasi yang diterima portalsatu.com menyebutkan, titi kecil itu rusak karena dilalui bus Damri pengangkut wisatawan beberapa waktu lalu.

“Titi kecil di dalam kawasan Indrapatra juga rusak, karena kemarin tu lewat Damri dan tersungkur di sana,” kata Irfan yang saat ini tercatat sebagai siswa salah satu SMA, di Aceh Besar.


Tak hanya itu, tangga kayu yang menjadi akses masuk ke benteng peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam–yang berada di sisi selatan situs Indrapatra–juga terlihat oleng. Saat wartawan mencoba menaiki tangga tersebut, suara-suara kayu lapuk terdengar sehingga membuat pijakan pengunjung kurang kuat.

Sebagai salah satu warga setempat, Irfan berharap destinasi wisata dan budaya ini mendapat perhatian dari pemerintah. Pasalnya selain wisatawan domestik, lokasi situs ini juga tak jarang dilirik wisatawan mancanegara seperti dari Eropa, Amerika dan Cina. Di jalur masuk menuju kawasan situs juga terdapat bangunan sekolah, SD-SMP Satap Ladong yang hingga kini masih berfungsi.

“Kawasan di sini tidak rusak karena tsunami. Ie laot cuma trok et benteng sagai. Jadi nyoe rusak kon karena tsunami, tapi memang rusak keudro karena ka trep hana dipeuget-peuget,” kata Irfan.[]

MURDANI ABDULLAH
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar