MOSKOW – Tindakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memerintahkan serangan rudal ke pangkalan militer Suriah berbuntut panjang. Rusia dan Iran mengancam akan mengerahkan pasukan yang lebih besar jika negara adidaya tersebut kembali melanggar 'garis merah' sekali lagi.
Dilansir dari laman the Independent, Senin (10/4), ancaman itu diungkapkan sebagai tanggapan atas serangan rudal Tomahawk yang menghancurkan pangkalan militer Suriah di Homs. Kedua negara ini beraliansi untuk mendukung penuh kekuasaan Presiden Bashar al-Assad atas negerinya.
“Apa yang dilancarkan Amerika dalam agresi terhadap Suriah merupakan melewati batas merah. Mulai saat ini kami akan merespons dengan kekuatan penuh setiap agresor atau penerobosan batas merah dari siapapun itu, dan Amerika tahu kemampuan kami untuk meresponsnya dengan baik,” demikian pernyataan pusat komando gabungan.
Donald Trump menyatakan serangan terhadap pangkalan udara al-Shayrat dekat Homs dengan menembakkan 59 rudal Tomahawk merupakan telah 'mewakili dunia'. Markas itu diduga dipakai pasukan loyalis Assad untuk mempersiapkan serangan gas beracun, yang menewaskan lebih dari 70 warga sipil, termasuk anak-anak.
Menteri Pertahanan Inggris, Sir Michael Fallon, meminta Rusia untuk mengendalikan Assad. Dia juga menyebut Moskow 'bertanggung jawab atas setiap kematian warga sipil' di Khan Sheikhoun.