Dalam agama Islam sangat menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak keturunan dan menghindari membujang atau melajang. Salah satunya cara memperbanyak keturunan dengan pernikahan dan ini merupakan…
Dalam agama Islam sangat menganjurkan kepada kita untuk memperbanyak keturunan dan menghindari membujang atau melajang.
Salah satunya cara memperbanyak keturunan dengan pernikahan dan ini merupakan bentuk dalam mengaplikasikan sunah Baginda Nabi saw., dalam kehidupan sehari-hari. Beliau melarang kita untuk ber-tabattul (membujang), ujar Teungku H. Luthfi Sofyan Arongan akrab disapa Ayah Panti, pemimpin Dayah Harapan Ummat Arongan, Bireuen, Senin, 10 April 2017.
Ayah Panti menjelaskan, tabattul sebagaimana dalam pandangan Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni bermakna menjauhi wanita (membujang) dan tidak menikahinya dalam rangka mencari ridha Allah, dan dengan alasan hendak memfokuskan diri hanya beribadah pada Allah.
“Dalam masyarakat realitas saat ini terkadang ada pemuda yang beralasan tidak menikah karena faktor ekonomi. Padahal, Allah swt., telah berjanji seorang pemuda yang berkeyakinan untuk melepaskan masa lajangnya secara bersungguhan dengan menikah, tentu saja Allah akan memberikan pertolongan, kata kandidat master IAIN Malikussaleh Lhokseumawe ini.
Ayah Panti berharap hendaknya para pemuda tidak ragu dalam meninggalkan status lajangnya atau bujangan. Ini disebutkan dalam hadis dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw., bersabda: “Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya“. (HR. Thabrani)
Ayah Panti mengatakan, untuk menghilangkan ketidakyakinan akan datangnya bantuan tersebut juga disebutkan dalam hadis Rasulullah, bunyinya: “Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak mukatab yang bermaksud untuk menjelaskan perjanjiannya, orang yang menikah dengan maksud memelihara kehormatannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah“.
Tokoh ulama muda itu mengingatkan generasi muda saat ini yang masih membujang, setidaknya dapat memikirkan dan merenung bukan hanya sekali, tetapi jauh lebih dari itu terhadap ancaman melajang.
Sekali lagi Ayah sangat menekankan kepada generasi muda Islam untuk melepaskan status jombloisme manakala sudah tiba waktunya sebagaimana peringatan Baginda Nabi Muhammad saw., dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Zar r.a., beliau menegaskan, “Orang yang paling buruk di antara kamu ialah yang membujang, dan seburuk-buruk mayat (di antara) kamu ialah yang membujang, ujar Ayah Panti.[]