Oleh: Addina Kamila*
Bagaimana perilaku pemuda di masa kini, maka seperti itulah perilaku bangsa di masa yang akan datang. Nasib suatu bangsa akan bergantung pada kualitas generasi penerusnya. Lalu bagaimanakah generasi muda Indonesia masa kini? Data Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya peningkatan kasus kenakalan remaja di Indonesia dari tahun ke tahun. Mulai dari penggunaan narkoba, seks bebas, prostitusi remaja online, aborsi, hingga akses media porno. Ironisnya, perilaku tersebut bahkan menjadi tren atau model yang menarik untuk diikuti. Fenomena tersebut seakan menunjukkan bahwa generasi millenium ini tidak mampu lagi membedakan perilaku benar dan salah.
Salah satu kenakalan remaja yang menjadi perbincangan hangat adalah kecanduan menonton video porno (pornography addiction). Mudahnya mengakses internet di era digital ini sering kali dikaitkan dengan maraknya porn addiction di kalangan remaja. Konten-konten yang bersifat seksual selalu terpapar di kehidupan anak muda, seperti game daring, televisi, dan media sosial. Jika konten tersebut terpapar secara terus menerus, maka akan merusak pikiran bahkan perilaku seseorang.
Secara fisiologis, menonton video porno akan menimbulkan kesenangan dan memicu sistem limbik untuk menghasilkan hormon dopamin. Jika dihasilkan berlebihan, maka hormon ini akan merusak bagian depan otak yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC). PFC merupakan bagian otak yang mengontrol perilaku, termasuk kemampuan individu membedakan benar dan salah. Jadi, menonton video porno secara berlebihan dapat merusak bagian otak, mengganggu perilaku, dan bahkan mengubah kepribadian seseorang.
Anak dengan kecanduan pornografi biasanya akan menunjukkan perilaku seperti menarik diri, mudah tersinggung, sering menggunakan kata-kata tidak senonoh, dan kehilangan gairah hidup. Bukan hanya perilaku, aspek kognitif pun ikut mengalami perubahan seperti menurunnya kecerdasan, dan sulit berkonsentrasi. Bahkan dampak kecanduan narkoba lewat mata (NARKOLEMA) ini lebih parah dari kecanduan zat adiktif.
Seorang anak yang mengalami adiksi akan mengalami kesulitan untuk berhenti menonton video porno betapapun ia menginginkan untuk berhenti. Otak telah menyimpan kegiatan menonton tersebut sebagai hal yang menyenangkan, sehingga ketika anak bosan atau mengalami stres maka otak akan mendorongnya untuk membuka situs porno. Hal inilah yang terus menimbulkan rasa bersalah pada diri anak sehingga mereka rentan terhadap depresi. Dapat diartikan bahwa adiksi terhadap pornografi menyiksa kondisi mental anak. Oleh karena itu, ketika orang tua telah mengetahui bahwa anaknya mengalami adiksi pornografi, maka memarahi dan menyuruhnya untuk berhenti saja tidak cukup. Anak memerlukan bantuan dan dukungan yang lebih dari sekedar nasehat atau hukuman, yaitu penerimaan dan kasih sayang dari orang tua.
Ayah memiliki peranan yang besar terhadap kesehatan mental anak. Penelitian mengenai pengaruh peran ayah terhadap perkembangan anak menemukan bahwa kondisi mental ayah akan memengaruhi kondisi mental anak. Peran ayah merupakan segala bentuk perilaku yang dilakukan oleh ayah bersama anak. Bukan hanya kuantitas yang diperhitungkan, tetapi juga kualitas emosional didalam setiap kegiatan. Interaksi yang positif antara ayah dan anak secara langsung akan meningkatkan perilaku positif pada anak.