ANAK merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dibina, hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Sedangkan memeliharanya adalah denganmembentuk kepribadian yang mulia pada jati diri si anak semenjak dia kecil. Oleh karena itu orang tualah yang memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa Islami.Setiap orang tua berusaha menanamkan kepada anggota keluarga, khususnya anak mengenai jati diri, suatu tingkatan akhlak dan perilaku tertentu, serta mengajarkan mereka keahlian-keahlian dalam berbagai bidang keilmuan dan ketrampilan praktis.(Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam: 23.).
Perkembangan jasmani dan rohani anak terbentuknya kepribadian yang utama. Setiap orang tua berusaha untuk membentuk anaknya dengan corak yang dapat mewujudkan kebaikan bagi dirinya, dan masyarakat.Orang tua memiliki peranan yang amat penting dalam membentuk kepribadian anak, sebab orang tua merupakan guru yang pertama ditemui anak sejak terlahir ke dunia ini. Oleh karenanya, perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh orang tuanya.
Agama Islam tentang kesehatan jasmani dan rohani telah memerintah kepada seorang ibu untuk menyusui anaknya, seperti dalam surat al-Baq?rah/2 ayat 233.berbunyi:Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan(QS. al-B?qarah: 233). Hal ini berarti al-Quran sejak dini telah menggariskan bahwa air susu ibu, baik ibu kandung atau bukan, adalah makanan terbaik buat bayi hingga usia dua tahun. Namun, susu ibu kandung tentu lebih baik. Dengan menyusu pada ibu kandung, maka anak akan merasa lebih tentram, sebab penelitian ilmiah menunjukkan bahwa ketika itu bayi mendengar detak jantung ibu yang telah dikenalnya secara khusus sejak dalam perut. Detak jantung itu berbeda antara satu perempuan dengan perempuan lain. (Oswari DPH,Perawatan Ibu Hamil dan Bayi, h. 98-99.).
ASI juga berpengaruh terhadap kesehatan rohani anak. Hamka dalam menafsirkan ayat di atas mengisahkan tentang riwayat Imam al-Haramain, ulama mazhab Syafii yang masyhur, guru dari Imam al-Ghazali. Ayah dari Imam al-Haramain ini bernama Abu Muhammad al-Juwaini. Kerja al-Juwaini ketika mudanya menyalin kitab-kitab ilmu pengetahuan dan menerima upah dari usaha itu sehingga dengan upah itu ia menikahi seorang perempuan yang shalehah. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdulmalik. Setelah anak itu lahir, al-Juwaini berpesan sangat kepada istrinya jangan sampai ada perempuan lain yang menyusukan anak itu. Namun, suatu ketika istrinya sakit sehingga air susunya kering, sementara bayinya menangis kehausan. Lalu datanglah seorang perempuan yang merupakan tetangganya yang kasihan mendengar tangisan anak itu lalu mengambil dan menyusukan anak tersebut. Tiba-tiba datanglah Abu Muhammad al-Juwaini. Melihat anaknya disusui oleh perempuan lain, dia pun tidak senang sehingga perempuan itu pergi. Lalu al-Juwaini mengambil anak itu lalu menonggengkan kepalanya dan mengorek mulutnya, sampai anak itu memuntahkan air susu perempuan lain. Beliau pun berkata: Bagiku tidak keberatan jika anak ini meninggal di waktu kecilnya, dari pada rusak perangainya karena meminum susu perempuan lain, yang tidak aku kenal ketaatannya kepada Allah. Hamka,Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional, 1999), h. 213.
Buya Hamka juga menambahkan dalam tafsirnya Anak itulah yang kemudian terkenal dengan nama Imamul Haramain Abdulmalik al-Juwaini, guru dari madrasah-madrasah Naisabur dan salah seorang yang mendidik Imam al-Ghazali, sampai menjadi ulama besar pula. Kadang-kadang sedang mengajarkan ilmunya pernah beliau marah-marah. Maka berkatalah dia setelah sadar dari kemarahannya, bahwa ini barangkali adalah dari bekas sisa susu perempuan lain itu, yang tidak sempat aku muntahkan(Hamka,214).