TERKINI
NEWS

Dokter Spesialis: Obat yang Masuk dalam Formularium Rumah Sakit Wajib Ada

TAPAKTUAN - Keluarga pasien asal Kluet Raya, Aceh Selatan, Nurbaiti, 55 tahun, mengaku sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Yuliddin Away Tapaktuan. Pasalnya, meskipun Nurbaiti telah…

CUT ISLAMANDA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

TAPAKTUAN – Keluarga pasien asal Kluet Raya, Aceh Selatan, Nurbaiti, 55 tahun, mengaku sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Yuliddin Away Tapaktuan. Pasalnya, meskipun Nurbaiti telah masuk dalam ruang Intensive Care Unit (ICU,) pihak rumah sakit milik Pemkab Aceh Selatan tersebut tidak mampu menyediakan obat-obatan secara lengkap sesuai resep dokter yang menangani pasien.

Menanggapi persoalan ini, dokter spesialis penyakit dalam yang menangani Nurbaiti, dr. Safrian Sp.P.D., mengatakan, dalam memberikan resep obat kepada pasien, ia mengacu ketentuan dan mekanisme yang telah ditetapkan.

“Dalam artian bahwa, resep obat yang diberikan tersebut harus mengacu kepada formularium nasional. Namun, karena formularium nasional tersebut tidak mungkin dipenuhi semua, maka dibuatlah formularium obat-obatan rumah sakit. Sesuai ketentuan, obat-obatan yang masuk dalam formularium rumah sakit tersebut wajib ada. Jika seorang dokter mengeluarkan resep obat di luar formularium rumah sakit tersebut, baru bisa disalahkan dokter bersangkutan,” kata Safrian ketika dikonfirmasi wartawan di RSUD YA Tapaktuan, Rabu, 15 Maret 2017.

Safrian menyebut persoalan kekosongan obat-obatan di rumah sakit pelat merah milik Pemkab Aceh Selatan tersebut telah berlangsung lama. Bahkan sudah sangat meresahkan masyarakat selaku pengguna jasa kesehatan. Namun, sampai saat ini persoalan tersebut belum mampu diatasi pihak terkait.

“Kalau berbicara peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, seharusnya langkah konkret dan prioritas yang perlu dilakukan oleh pihak manajemen rumah sakit adalah harus bisa memfasilitasi dokter spesialis dalam bekerja sesuai standar pelayanan tertinggi dalam sebuah rumah sakit. Namun kenyataan yang terjadi di lapangan selama ini justru sebaliknya, sebab dengan terjadinya persoalan kekosongan obat tersebut justru sangat mengganggu konsentrasi para dokter spesialis dalam bekerja. Apalagi persoalan seperti ini bukan pertama kali, melainkan sudah sering,” ujarnya.

Safrian mengaku tak habis pikir terkait persoalan kekosongan obat tersebut karena meskipun sering diberitakan media massa, belum ada solusi konkret sampai saat ini.

“Saya melihat bahwa persoalan kekosongan obat tersebut seperti tutup lubang gali lubang. Karena dalam prosesnya di lapangan, misalnya ada obat A, kosong obat B, demikian terus selanjutnya, sehingga persoalan-persoalan yang sama kembali muncul. Saya mengusulkan kepada manajemen rumah sakit agar dalam menyediakan obat-obatan jangan menunggu stok obat lama sampai habis, melainkan sebelum habis sudah ada cadangan obat lain,” pintanya.[] (*sar)

CUT ISLAMANDA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar