TADI malam, puluhan orang menghadiri 'DISKUSI DAN SILATURAHMI' dengan Guru Besar Prof. Dato'. Dr. Othman Yatim, penulis buku “Batu Aceh: Early Islamic Gravestone in Peninsular Malaysia” yang dilaksanakan oleh pegiat kebudayaan dari Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), di Warkop Zakir, Lampriet, Banda Aceh Sabtu 11 Maret 2017, pukul 20.00 WIB.
Pada akhir acara, setelah Prof Othman dan tokoh sejarah lain yang hadir bicara, Sekretaris Mapesa, Ayi, mengungkapkan kegalauannya tentang situs sejarah di Gampong Pande, Banda Aceh.
Ia menceritakan kembali tentang para pekerja alat berat yang menggali kolam limbah sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Gampong Jawa, Banda Aceh, telah menghentikan pekerjaannya sekira sejak 10 Februari 2017, untuk sementara waktu karena di tempat yang digali tersebut ada komplek makam pembesar Kesultanan Aceh Darussalam.
Rizal Habsy, penduduk setempat yang juga anggota Mapesa (Masyarakat Peduli sejarah Aceh), bersama pekerja telah memindahkan beberapa nisan yang tidak lagi pada tempatnya karena sebelumnya ditimbun dengan sampah. Dan, setelah itu, Rizal mengelilingi komplek makam itu dengan police line.
Pihak Mapesa telah menemui kontraktor proyek pembuangan limbah beracun itu. Mapesa meminta kepada pemegang kuasa proyek, Dinas DKKP Kota Banda Aceh untuk menyelamatkan kompleks makam tersebut. Dan, Ayi ingin orang-orang menyelamatkan situs-situs di Gampong Pande, Banda Aceh.
Tentu saja, aku terkejut mendengar pernyataan Ayi ini karena sebelumnya aku mengira masalah itu sudah selesai tatkala Mizuar mengatakan ia menemui pihak dinas yang mengurus proyek kurang ajar itu untuk kasus pelanggaran situs budaya tersebut.
Itu hampir tengah malam dan acara akan ditutup. Namun karena itu masalahnya, aku minta waktu untuk bicara, dan pemandu acara, Edi, mengizinkannya.
Aku pun mengingatkan tentang bagaimana beberapa tahun lalu, setelah Mapesa kehilangan daya upaya –bahkan terancam– dalam mengangkat situs Lamuri di Lamreh Aceh Besar karena pemerintah setempat ingin membangun lapangan golf di jrat indatu itu.
Adalah aku bersama Haikal Afifa dan Asiah Uzia (saat itu Asiah masih di Forum LSM Aceh belum masuk PNA), menggerakkan perlawanan itu secara sitematis dan terkendali. Asiah bersedia mengajak Forum LSM Aceh dan puluhan organisasi anggotanya. Di antara tokoh yang pada masa awal mendukung ialah Adli Abdullah, Lem Faisal, dan lainya.