BANDA ACEH - Warga Gampong Doy, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh dihebohkan dengan temuan benda misterius yang dianggap mirip bom 10 Maret 2017 kemarin. (Baca:…
BANDA ACEH – Warga Gampong Doy, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh dihebohkan dengan temuan benda misterius yang dianggap mirip bom 10 Maret 2017 kemarin.
(Baca: Curiga Temukan Bom, Warga Ulee Kareng Lapor Polisi)
Namun setelah diurai oleh polisi, benda tersebut ternyata radiosonde milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh Stasiun Blang Bintang.
Kasie Data dan Informasi BMKG Aceh, Zakaria Ahmad yang datang ke tempat kejadian bersama aparat kepolisian, Sabtu, sekira pukul 01.30 WIB dinihari, membenarkan bahwa benda mencurigakan itu milik BMKG. Ia mengatakan benda tersebut adalah Radiosonde (Rason) dengan merek Modem.
(Lihat: Dikira Bom Teryata Benda Misterius di Ulee Kareng Radio Sonde Milik BMKG)
Apa itu radiosonde?
Dikutip dari wikipedia.org, Radiosonde (Sonde Perancis dan Jerman untuk probe) adalah sebuah peralatan yang digunakan pada balon cuaca yang mengukur berbagai parameter atmosfer dan mengirimkan ke penerima tetap.
Radiosonde dapat beroperasi pada frekuensiradio 403 MHz atau 1680 MHz dan kedua jenis dapat disesuaikan sedikit lebih tinggi atau lebih rendah seperti yang diperlukan. Sebuah rawinsonde adalah radiosonde yang dirancang untuk hanya mengukur kecepatan dan arah angin. Bahasa sehari-hari, rawinsonde biasanya disebut sebagai radiosonde.
“Rason atau radiosonde adalah salah satu alat meteorologi untuk pengamatan udara atas yang diterbangkan menggunakan balon. Rason berisi sensor suhu, tekanan, angin, GPS. Dengan sensor-sensor tersebut didapat data suhu, dan lain-lain di lapisan atas,” ucap Kepala BMKG Stasiun Mata Ie Aceh, Eridawati.
Rason dilengkapi dengan baterai, rangkaian kabel, tali, pipa, dan balon yang dikemas dengan sterofom. Kata Eridawati, rason sudah mulai beroperasi di Stamet SIM sekitar dua tahun lebih. Benda itu diterbangkan 2 kali setiap hari pada pukul 6 pagi dan 6 sore.
Eridawati mengatakan bahwa rason itu akan jatuh saat balonnya pecah. Sebab itu, ia mengharapkan masyarakat untuk tidak panik dengan alat yang yang dipakai untuk mengukur keadaan cuaca tersebut.
“Saat balon dilepas, pergerakannya dimonitor di BMKG Blang Bintang hingga ketinggian 25 km. Rason itu pasti jatuh, setelah balonnya pecah,” kata Eridawati.[]