Al Hajar Al Aswad, sebuah kota di kawasan Dasmsyiq, Suriah adalah cermin semua kawasan yang hancur di seluruh Suriah. Kota yang semula indah dan makmur berubah menjadi kepingan memilukan.
Ketakutan, kelaparan dan semua kegelapan masa depan adalah satu-satunya keadaan. Penghuni di dalamnya, adalah semua rasa yang menyerupai monster yang ingin dijauhi manusia dan jin, kecuali ketabahan dan kesabaran.
Di kota itu yang sekarat oleh perang, di antara reruntuhan dan puing-puing harapan, di suatu siang yang hampa, dua anak kecil bersaudara terlihat berjongkok dan memunguti remah-remah roti kad yang tersebar menyatu bersama tanah kering yang tandus. Satu gadis berusia 10 tahun dan satu lagi saudara lelakinya berusia 8 tahun.
Tangan-tangan mungil itu sibuk memungut dan mengumpulkan setiap butiran yang tersisa. Seperti tak ingin kehilangan, setiap remah yang menonjol diantara tanah-tanah segera dipungut dan dimasukkan ke dalam mulut kecil mereka. Suara kunyahannya berdetak. Sisanya lagi dikumpulkan menjadi satu gundukan kecil.
“Orang-orang sekarang suka membuang makanan,” kata gadis kecil itu. Mereka lebih suka membuang makanan di sini ketimbang memberikan pada orang.”
Dua anak ini, telah dua tahun lebih menjalani hidup seperti ini sejak perang dimulai di Suriah tahun 2011. Ke dua orang tuanya tak berdaya dan juga kelaparan. Ketika ayahnya kehilangan kartu indentitas, semuanya menjadi seperti ikut hilang, termasuk hak mendapatkan bantuan makanan. Sejak itu mereka ditinggalkan.