SALAH satu media dalam pemilihan pemimpin di negara kita di kenal dengan Pilkada. Saat ini pilkada sudah melalui beberapa proses, mulai pra kampanye hingga hari penclobosan telah usai, kini tinggal selangkah lagi menunggu hasil siapa sang pemimpin akan datang? Jelas di sini kita di uji manakala menjadi sang juara nomor belakang alias mengalami kekalahan. Eksesnya di antara kita ada yang kecewa dan “sakit hati”, baik sang aktor utama para paslon, timses, simpatisan dan lainnya. Itu fenomena yang sedang dan akan terjadi pasca atau menjelang pengumuman dan penetapan siapa sang pemimpin masa depan kita
Kekecewaan itu sesuatu yang wajar dan manusiawi. Namun sangat “manusiawi” kala sebuah kemenangan sudah mulai nampak dan hadir di hadapan mata, kita masih sibuk menghujat, mencaci dan lain sebagainya tidak mengakui dan menerimanya dengan mencari seribu alasan, apalagi mengapresiasi dengan mengucapkan selamat dengan penuh keikhlasan dan tulus sebagai sosok jiwa ksatria atas keberhasilan orang lain sebagai “musuh” kita.
Usaha dan doa telah dilaksanakan dan dilakukan dengan mengorbankan harta, tenaga dan semangat serta mengerahkan segenap apa yang dimiliki demi meniti dan menggapai kesuksesan. Tetapi dua hal di atas itu belum usai tugas kita sebagai manusia dalam berikhtiar, masih ada satu lagi yang namanya pasrah, bahasa agama di kenal dengan bertawakkal. Terakhir ini terkadang kita lupa dan di butakan oleh nafsu dan emosi.
Ada sebuah kisah menarik zaman dulu, konon ceritanya. Salah seorang tokoh sufi besar bernama Syekh Ibrahim bin Adham, pernah pada suatu hari bertemu dengan seorang pemuda yang tampak gelisah dan mungkin kecewa karena telah gagal dalam sebuah kesuksesan, beliau berkata: “Saya akan bertanya kepada kamu tentang tiga hal wahai pemuda, pertanyaan pertama, apakah ada sesuatu di alam ini terjadi tanpa kehendak dari Allah?,” Sang pemuda menjawab:” tidak ada”, . “Peryataan kedua apakah rizki kamu dapat berkurang dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT?”
“Tidak,” jawab pemuda itu. Selanjutnya Syekh Ibrahim bertanya yang terakhir, “Apakah ajalmu bisa berkurang dari tanggal yang telah ditetapkan oleh Allah?”. Pemuda itu juga menjawab: “Tidak mungkin, kemudian Ibrahim bin Adham berkata”. Kalau demikian kamu harus mengkhawatirkan apa?
Syekh Ibrahim menjelaskan harus bertawakal (berpasrah) sepenuhnya kepada Allah SWT terhadap keputusan-Nya. Ini kenapa harus diposisikan setelah proses usaha dan berdoa? Hal demikian itu sebagai antisipasi agar sikap dan hati kita tidak su'ul dhan atau berburuk sangka terhadap Allah SWT dengan segala ketetapan-Nya.