TERKINI
HEALTH

Sungguh Indahnya Pilkada Damai

KEDAMAIAN merupakan impian kita semua dan harapan seluruh lapisan masyarakat. Termasuk dalam pilkada tahun ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Merealisasikan sebuah pilkada damai dalam…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 265×

KEDAMAIAN merupakan impian kita semua dan harapan seluruh lapisan masyarakat. Termasuk dalam pilkada tahun ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Merealisasikan sebuah pilkada damai dalam nuansa islami terlebih di negeri syariah Nanggrou Aceh ini.

Implementasi tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Dalam mewujudkan pilkada yang damai dan Islami harus berangkat dari kita sebagai masyarakat sebagai objek dan juga para calon kandidat baik bupati ataupun gubernur dan jajarannya sebagai timses masing-masing.

Di balik itu bukan hanya  elemen tersebut saja yang berperan dalam mengaktualisasikan pilkada damai, namun kunci utama juga sangat sakral di perankan oleh pelaksana pilkada baik KIP dan Panwaslih serta jajarannya.

KIP yang berwenang melaksanakan pilkada. Di tangan para pelaksana pilkada inilah akan lahir pilkada yang damai nan Islami yang menjunjung supermasi hukum, kejujuran dan penuh kedamaian. Ini menjadi hal yang sangat penting bagi jajaran KIP dan Panwaslih Aceh untuk menjalankan perannya secara baik dan tidak memihak serta supremasi hukum menjadi prioritas utama. 
Apabila KIP dan Panwaslih telah memainkan fungsi dan perannya dengan benar dan jujur maka potensi masalah dan ploblemayang muncul dari tidak profesionalnya KIP akan bisa dihindari. Dengan begitu, kemungkinan munculnya konflik pun akan dapat diminimalkan.

Faktor lainnya adalah para calon kepala daerah baik bupati atau walilota dan tim suksesnya. Para calon kepala daerah memiliki  peran yang sangat sentral dalam menentukan pilkada berjalan damai atau tidak. Selama ini konflik yang muncul dari setiap pelaksanaan pilkada akibat calon kepala daerah dan tim suksesnya tidak mau menerima kekalahan.

Sangat penting bagi calon kepala daerah baik bupati ataupun gubernur, termasuk tim suksesnya, harus menerima dan berlapang dada kala  mengetahui pihaknya tidak mendapatkan kemenangan dan harus kalah di arena pilkada.
Mereka timses, simpatisan dan masyarakat pendiukung harus mampu untuk mengimplementasikan sikap siap kalah tersebut, bukan sekadar penghias bibir, tetapi diwujudkan dalam perilaku dan realita di lapangan.

Melahirkan pilkada damai dan bernuansa islami sebuah harga yang sangat mahal apabila elemen pelaksana ( KIP dan Panwaslih) dan pasangan calon baik pendukung, simpatisan dan lainnya tidak tunduk dan patuh kepada norma yang berlaku. Kerap bahkan sering kali kericuhan yang muncul dalam pilkada karena para calon kepala daerah yang kalah dan tim suksesnya menghasut para pemilihnya untuk memprotes hasil pilkada. Hal ini tidak boleh terjadi dalam pilkada serentak kali ini.

Harapan kita pilkada damai dalam bungkai relegius dambaan kita semua. Dulu saat kita masih masa berkampanye saling menghasut dan mencaci satu sama lainnya baik di media maupun dalam keseharian di masyarakat di sebabkan beda pilihan dan partai serta bendera. Kini itu telah berlalu, marilah kita membuka kembali lembaran kedamaian bernuansa relegi dalam membangun ukhuwah islamiyah menunu pilkada damai nan di landasi dengan nuansa islami dengan menjunjung supremasi hukum untuk memilih pemimpin yang lebih baik menuju negeri baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar