“Bak tempat nyoe geupeudong Hotel Aceh, teumpat singgahan Presiden Soekarno watee geusaweu Aceh lam buleuen Juni 1948. Di Hotel Aceh nyoe Presiden Soekarno sira geumoe geulakee bantuan rakyat Aceh beujeut geubri kapai teureubang guna keupeuntengan diplomasi Neugara Indonesia. Ban dua boh kapan teureubang nyan teuma geuboh nan Seulawah 01 ngon Seulawah 02.”
Demikian ukiran aksara latin yang tertera pada sebuah prasasti, berlatar tembaga. Dianya berada di sisi kiri Masjid Raya Baiturrahman, tepatnya di depan Taman Sari yang kini berganti nama menjadi Taman Bustanussalatin, Banda Aceh.
Jika diartikan ke bahasa Indonesia, bunyi prasasti itu adalah, “Di lokasi ini pernah berdiri Hotel Aceh tempat Presiden Soekarno singgah dalam undangannya ke Aceh pada Juni 1948. Di hotel inilah Soekarno sambil menangis tatkala meminta rakyat Aceh untuk membantu membeli pesawat guna kepentingan diplomatik Indonesia. Kedua pesawat sumbangan rakyat Aceh kemudian diberi nama Seulawah 01 dan Seulawah 02.”
+++
SENIN, 6 Februari 2017. Saya mencoba menjejak langkah ke tempat bersejarah itu. Jika merujuk pada isi prasasti tersebut maka diketahui tiang pancang berwarna warni yang ada disana, diduga bekas-bekas tapak Hotel Aceh. Di tempat tersebut juga masih terlihat susunan bata seperti anak tangga yang masih berjajar meski hanya tersisa puing saja.
Jika merujuk catatan sejarah, di Hotel Aceh inilah Presiden RI Soekarno dijamu makan malam oleh para jutawan Aceh. Saat itu, almanak jatuh pada 16 Juni 1948. Di hotel ini pula Soekarno berpidato dengan gaya khasnya di hadapan para saudagar Aceh. Pidato yang akhirnya berujung pada tangisan sang Proklamator, karena meminta para saudagar Aceh menyumbangkan harta mereka untuk pengadaan pesawat terbang.