LHOKSUKON – Mohammad Yusuf Abdullah atau dikenal Panglima Moja memutuskan untuk berhenti memperjuangkan Aceh Merdeka (AM) pada tahun 1984. Pasca penandantanganan MoU Helsinki, Panglima Moja juga enggan turun ke dunia politik Aceh. Baginya, perjuangan AM sudah tidak sejalan usai meninggalnya tiga tokoh dalam pergerakan tersebut.
Loen piyoh thon 1984, aleuh nyan loen berangkat u Malaya (Malaysia). Antara thon 1977 1981 wate na Dr. Muchtar Hasbi, Dr. Zubir Mahmud ngen Teungku Ilyas Leube, na soe pimpin yang beutoi. Aleuh hana le ureung nyan, hana le pemimpin yang beutoi, nyang laen kabeh dijak u Eropa. Oh wate peugah haba nyoe jeh di Eropa (Saya berhenti yahun 1984, setelah itu saya berangkat ke Malaysia. Antara 1977-1981 saat masih ada Dr. Muchtar Hasbi, Dr. Zubir Mahmud ngen Teungku Ilyas Leube, ada yang memimpin dengan benar. Setelah mereka tidak ada lagi, tidak ada lagi pemimpin yang benar, yang lain sudah pergi ke Eropa. Mereka bicara ini itu di Eropa), ujar Panglima Moja, kepada portalsatu.com, saat ditemui di rumah kakaknya di Gampong Ulee Buket, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Minggu, 5 Februari 2017 siang.
Dia mengisahkan adanya peluang belajar militer ke Libya pada 1987. Pada masa itu banyak anggota Aceh Merdeka (AM) ke Libya, termasuk Muzakir Manaf (Mualem). Sepulang dari Libya, mereka bahkan kembali berperang.