LHOKSEUMAWE – Nur Salaya, janda anak tiga yang baru sepekan menghuni kandang lembu di Lhokseumawe ternyata menyimpan banyak kisah sedih. Apalagi saat mendiang suaminya belasan tahun terbaring akibat TBC kronis, wanita bertubuh mungil itu harus pasrah menjadi tulang punggung keluarga.
Sejak suami sakit belasan tahun lalu, saya mulai bekerja jadi tukang cuci, saya tidak tahu harus kerja apa selain itu. Perbulan hanya dapat Rp 400 ribu. Ya walau sering makan nasi putih diberi garam, yang penting saya dan anak-anak tidak lapar, sebut Salaya kepada portalsatu, Rabu 1 Februari 2017.
Katanya, pendapatan bulanan yang tidak seberapa itu dihabiskan untuk membayar utang beras di warung. Tak jarang dia harus mencari pinjaman dari saudara almarhum suaminya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi saat ini harga bahan pokok semakin tinggi, membuat Nur Salaya dan anak-anak harus benar-benar berhemat alias ikat perut.
Selain itu dalam kondisi serba kekurangan, Nur Salaya tetap berusaha mencari uang lebih agar dua buah hatinya Samsuar Ali (12) dan Nasrullah (6) tetap bisa sekolah. sedangkan yang paling kecil Cut Fauzana sering dititip di rumah mertua atau dibawa serta saat bekerja.
Wanita kelahiran Palembang itu juga mengaku malu meminjam atau meminta bantuan sama tetangga karena dulu waktu suaminya sakit-sakitan banyak yang membantu. Bahkan saat kondisi terdesak butuh biaya berobat, dirinya sering meminta bantuan geuchik.
Aisyah mertua Nur Salaya juga merasakan kesedihan luarbiasa. Sepeninggal anaknya Iskandar (suami Nur Salaya) kehidupan tiga cucu kesayangannya semakin tidak menentu. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena juga bernasib tidak jauh berbeda dengan menantunya itu.