BAGI sebagian orang, barang rongsok yang kotor, busuk dan berkarat sangat menjijikkan. Tetapi di tangan mereka, ribuan ton barang rongsok jenis plastik, kaca, hingga kertas malah menjadi ladang sumber kehidupan. Haji Ali salah satu yang sukses memanfaatkan barang rongsok tersebut.
Haji Ali yang berpenampilan sederhana, memakai kaus warna coklat, celana pendek di bawah lutut sore itu memasuki gudang di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat dengan sepeda motor. Dua anaknya yang masih bocah dia bonceng di motor menuju gudang barang bekas.
Meski penampilan sederhananya, dia adalah pemilik dua gudang barang bekas. Itu merupakan jerih payah usaha Ali selama sepuluh tahun bergelut dengan barang bekas. Ali menceritakan kepada merdeka.com awal mulai menjadi pengepul barang bekas.
Dia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai pegawai swasta pada 2006. Dia putar otak untuk membuka usaha sendiri. Mulai dari berjualan bakso keliling, warung kopi, sampai akhirnya pada 2008 bertemu dengan temannya yang jadi pengusaha barang bekas.
“Teman saya sudah memulai jadi pengepul barang bekas dan untungnya besar. Dulu tuh bisa puluhan juta untungnya perhari, tahun 2000-an itu sudah gede ya saya tergiur,” kata Ali saat ditemui merdeka.com, Jumat (27/1) di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat.
Saat pertama kali terjun bisnis rongsok pada 2008, Ali hanya bermodal Rp 5 juta, sisa pendapatan dari usaha sebelumnya. Dari modal tersebut dia membeli barang bekas dari para pemulung di sekitar rumahnya, kawasan Jakarta Utara. Kemudian Barang bekas itu dia jual lagi ke pengepul yang lebih besar.
Setelah memiliki keuntungan, Ali mulai membeli timbangan dan memulai usahanya di kawasan Jakarta Utara. 2 Tahun kurang Ali menyewa lahan. Pada tahun 2010 Ali langsung membeli lahan yang disewanya dulu. Luasnya, kata dia sekitar 5 x 10 meter. Dia juga sudah memiliki 15 pegawai.
Masa kejayaan Ali pun dimulai, dia mampu mengeluarkan modal sekitar Rp 100 juta hingga Rp 200 juta untuk membeli 20 hingga 50 ton barang rongsokan dalam satu hari. Dari puluhan ton barang bekas jenis besi, kaleng, dan berbagai bahan dari wilayah Jakarta Pusat, Ali dapat mengantongi omzet Rp 150 juta hingga Rp 300 juta per hari.
“Itu tahun 2010, Alhamdulillah udah mulai jaya, waktu itu udah bisa gaji pegawai dan sekarang sudah lebih dari 100 pegawai, beli rumah dan beli lahan,” kata Ali sambil tersenyum mengenang kejayaannya dulu.
Kemudian, pada 2011 Ali mulai bekerja sama dengan pabrik-pabrik yang biasa menggunakan barang-barang bekas untuk didaur ulang. Pabrik-pabrik tersebut, kata Ali, biasa membeli barang bekas dari gudangnya sebanyak 20-60 ton tiap harinya. Kalau ramai, kata Ali, dia bisa mengirim 50 ton lebih dalam satu hari.