TERKINI
FEATURE

Pulo Aceh, Kisah Rakyat dari Negeri Makmur

BESOK adalah tanggal 12 Rabiul Awwal. Hari ini, pagi tanggal 11, dari kantor kerjanya, Bang Thayeb menelponku yang saat itu tengah bersiap ke Pulo Breueh…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 7 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

BESOK adalah tanggal 12 Rabiul Awwal. Hari ini, pagi tanggal 11, dari kantor kerjanya, Bang Thayeb menelponku yang saat itu tengah bersiap ke Pulo Breueh untuk merayakan maulid Nabi SAW.

“Pagi ini kita ke rumah salah seorang politisi Aceh sebentar,” demikian suaranya dari  telpon seluler.

Tak lama kemudian, ia datang. Kami pun menuju tempat politisi itu di antara bait-bait hujan gerimis yang terus menitik tintanya langit membasahi lembaran bumi. Walau tersesat sebentar sebelum tiba, namun tibalah juga kami di sana. Dan kami pun langsung disambut dengan canda dan keakraban .

Di Rumah Politisi

Di rumah sederhana tersebut, di ruang tengahnya terlihat ada beberapa tas dan barang-barang yang bercirikan khas Aceh yang tinggi juga terlihat disisi tas tersebut.

“Besok saya akan transit ke Kuala Lumpur seminggu sebelum terbang kembali ke Denmark,” salah satu kata di antara percakapan Thayeb Loh Angen dengan sang politisi, Kanda Yusra Habib Abdul Ghani, seorang anggota Gerakan Aceh Merdeka pimpinan Hasan Tiro. Yusra kelahiran Aceh Tengah, berkewarganegaraan Denmark.

“Saya berniat menuliskan satu catatan dan ingin merangkumnya menjadi sebuah buku, tentang beragam pandangan dari berbagai tokoh politisi untuk menemukan satu kata terang dalam menanggapi masaalah-masaalah hingga menjadi positif dalam sebuah etika perpolitikan baru, ” kata Thayeb Loh Angen, menjelaskan maksud kedatangannya.

 “Baik, saya sangat setuju ada anak muda Aceh yang masih mau berfikir untuk membina peradaban. Aku bangga,” kata Yusra dengan pengucapan bahasa Aceh yang fasih dan jika kita mendengar sekilas seakan ia sedang berbicara dengan bahasa Britania, dikarenakan telah lama di Denmark.

Tiba-tiba Syukri Isa Bluka Teubai pun menelpon. Kebetulan wawancara dengan sang politisi tersebut pun telah menemukan beberapa poin penting, kami minta izin dan kembali.

Di Laut Samudera

Siang itu, perlahan perahu bermesin berukuran sedang itu pun berenang lamban dari Pelabuhan Lampulo menuju Pulo Breueh, Pulo Aceh, Aceh Besar. Perahu itu melintasi puluhan perahu mesin lain yang diam tertambat di pinggir sungai Krueng Aceh. Tubuh perahu itu pun terus menyeruak air ke samudera biru, menggapai Pulo Breueh yang indah dan alami.

Dalam dua jam perjalanan laut tersebut, di atas atap perahu aku dan Syukri juga beberapa penumpang lain sempat tertidur beberapa kali yang sebelumnya asik menatap awan-awan berarak di angkasa sambil tubuh-tubuh kami terbaring di tengah atap perahu yang dilingkup oleh lukisan indah warna siangnya yang cerah.

Aku sempat berpikir, kira-kira di sinikah dahulu kapal-kapal Armada Laksamana Malahayati berlayar menjaga perairan Aceh dari gangguan Portugis.

Tiba di Pulo Breueh

Senja itu, perahu mesin yang kami tumpangi pun tiba di sebuah dermaga kecil Pulo, Pelabuhan Surapong, Pulo Breueh. Awak kapal membongkar muatan-muatan yang ada di perut perahu lalu mereka angkat ke daratan.

“Kita tak usah turun,” kata Syukri.

“Jadi turun di mana juga kita. Apakah masih jauh?” Tanyaku.

“Tidak, kita akan turun di sana,” kata Syukri, menunjuk ke arah seberang muara. Aku melihat ke arah yang di tunjuk itu, di sana ada beberapa perahu yang diam, menepi.

“Anak-anak Pulo, dari disini mereka sering berenang menyeberangi muara ini mereka sanggup menggapai ke tepian daratan sebelah sana.” Penjelasan Syukri tersebut membuat aku terkejut-kagum mendengarnya, karena anak-anak Pulo Aceh berani berenang menyeberang muara yang bukan jaraknya lima puluh meter malah lebih.

''Ya, mungkin mereka telah terdidik oleh alam,'' Syukri menjelaskan.

Di Rumah Keluarga Syukri

Di rumah keluarga Syukri yang berjarak hanya seratus meter dari dermaga itu, kami pun saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing.

“Di tengah laut kemarin, kami dihadang oleh sebuah amukan ombak yang menjelma secara tiba-tiba.  Jika saja gelombang itu tidak usai, mungkin hari ini kalian tidak akan menemui kami lagi di sini,” kata salah seorang ibu kepada Syukri.

“Bagaimana ceritanya,” tanya Syukri.

“Awalnya cuaca sangat cerah dan gelombang sangat tenang menuntun kapal yang kami tumpangi. Namun kemudian, beberapa anak muda yang duduk di atap kapal terdengar riang gembira. Sambil makan durian yang dibawa dari daratan Aceh, mereka saling mengolok-olok menghina satu sama lainnya dan tertawa-terbahak. Kemudian entah darimana sebuah gelombang besar muncul tiba-tiba dari arah depan jalan kami, seakan ingin menghadang dan siap menghempas kapal yang kami tumpangi itu dengan sangat ganas,” kata seorang gadis dengan wajah berkerut. Masih terlihat sisa-sisa ketakutan di wajahnya saat bercerita.

“Lalu?” Tanya Syukri penasaran.

“Di tengah keadaankapal kami terombang ambing dan harapan untuk hidup telah sirna, semua kami berdo'a kepada yang memiliki ombak agar diredakan dan memudahkan perjalanan kami. Ada juga yang bernazar. Alhamdulillah doa kami dikabulkan dan kejadian itu menjadi pelajaran yang berguna bagi kami.

“Ya, adab adalah jalan selamat dunia-akhirat,” kata Syukri.

Sebelum aku diajak Syukri ke dermaga untuk memancing ikan malam itu, ia juga tak lupa untuk menceritakan bahwa pemilik rumah yang kami tumpangi itu punya cerita yang mengharukan tentang laut.

Berpetualang di Samudra

Sykri pun menceritakan. “Suatu ketika abang iparku mencari ikan ke laut bersama dengan seorang kawannya, mereka menyeberangi laut dengan memakai perahu mesin kecil. namun ketika perjalanan telah jauh dari daratan tiba-tiba mesin yang bertugas mengayuh kapal pun rusak dan diam.

Ketika itu hanya kematian dan kenangan bila meninggal tanpa ada yang tahu tentu juga tanpa nisan terlintas terbenak di hati mereka berdua. Pada siapa harus minta tolong. Setelah membentang sehelai kain sebagai layar untuk memberikan kuasa pada angin untuk menghembus kapal kecil mereka ke mana ia suka asal tidak diam.

Kapal itu pun terus dituntun angin siang- malam hingga sampai melintasi jalur perairan internasional dan terus berenang mendekati negeri-negeri yang tidak mereka kenal. Hingga sebuah kapal minyak negeri Arab yang akan ke Jepang menemukan dan menyelamatkan mereka. Sebelum mereka dibantu untuk dapat kembali ke Aceh, kapal minyak tersebut membawa mereka untuk transit ke Singapura terlebih dahulu.”

Demikian ceritera Syukri tentang perjalanan abangnya, Azhari, dan rekannya, yang sangat legendaris umpama Simbad Si Pelaut.

Dan sampai hari ini piagam yang diberikan oleh perusahaan Arab tersebut untuk dua petualang  itu masih disimpan terbingkai di rumah mereka.

Memancing Ular

Malam itu, aku, Syukri, Zulfadhli (adik Syukri), membawa segenggam gurita dan beberapa mata kail. Dan kami pun memancing ikan. Hingga larut malam, Syukri berhasil mendapat dua ekor ular, dan aku mendapatkan satu. Kami pun mencampakkan ular-ular tersebut di atas geladak kapal dan kembali ke rumah sang petualang untuk beristirahat.

Harinya, suara gema shalawat dari sebuah panggung di tepi pantai Seurapong seakan merasuk ke seluruh tumbuh-tumbuhan yang dahulu pernah dihempas tsunami, juga didengar oleh mentari dan riak-riak samudra yang punya gelombang.

Suara memuja penghulu 'alam Nabi Muhammad SAW juga hari inilah serentak barzanji dibacakan di seluruh dunia, 12 Rabiul Awwal.

Yang menarik dari sistem khanduri maulid di Pulo Breueh ini adalah, bila hendak memasak nasi untuk khanduri, masyarakat terlebih dahulu membakar kemenyan di masing-masing rumah mereka untuk wewangian.

Nasi-nasi yang mereka masak sendiri tersebut dibungkus atau dimasukkan dalam dalong dan dihias. Mereka masih mempertahankan adat kebiasaan Aceh masa silam.

Ketika dalong-dalong bu minyeuk (nasi minyak) telah siap untuk diantar ke meunasah, Geuchik Gampong Seurapong menjemput seluruh khanduri dari setiap rumah penduduknya untuk dibawa ke meunasah dengan memakai mobil pickup pribadi.

Seluruh penduduknya masih mempertahankan karakter kerjasama yang baik sesama masyarakat. Tak lupa juga seorang penda'i dari Aceh Utara turut memberikan cerita-cerita tentang sirah nabi kepada masyarakat Pulo Breueh, pada malam harinya.

Ketika perayaan maulid selesai senja itu, kami menggunakan sisa waktu untuk berkeliling Pulo Breueh, melihat keindahan alamnya.

Tentu ternyata di sana alamnya bagai sebuah puisi cinta yang tak pernah curang pada kekasihnya. Alami. Perjalanan berkeliling Pulo Breueh hampir sama jika anda pernah ke Aceh Tengah, dipenuhi gunung-gunung, hanya beda pantainya, di sini  ada biru bening air samudra yang membuat ikan aneka warna terlihat berenang beberapa puluh meter dari pantai berpasir putihnya.

Perjalanan ini dipenuhi jalanan menanjak yang curam, dan hujan pun tanpa henti. Ketika jalan menanjak, aku dan Zulfadhli turun dari sepeda motor dan berjalan kaki, sesekali berlari. Sedangkan Syukri terus memaksa motornya mendaki.

Satu kenangan perjalanan yang kami dapati dan berharga, ialah di suatu sudut terpencil negeri ini, dengan  alamnya yang sangat indah, hasil laut- daratnya sangat makmur. Namun, mereka masih mempertahankan adat kebiasaan Aceh yang terwarisi sejak berabad-abad silam.

Bagaimana dengan gompong kita, apakah ketika merayakan maulid Nabi besar Muhammad SAW kita akan pergi ke warung nasi untuk memesan dan mengantarkannya ke meunasah? Cerita ini kami pun selesaikan dan menyeberang kembali ke daratan Aceh.[]

Penulis: Lodins LA, Discover Sudio, Banda Aceh.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar