SAMALANGA Ulama muda di Bireuen Teungku Iswadi Arsyad menilai tsunami akhlak lebih dahsyat dari gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 silam.
“Lihatlah akhlak masyarakat Aceh saat ini, terutama para generasi muda. Tidak sedikit di antara mereka yang terjerumus dalam dunia hitam. Moral terkikis oleh imbas era globalisasi, narkoba, prostitusi dan bermacam kemungkaran lainnya yang semakin meningkat pascatsunami 2004 hingga 2016 ini. Seharusnya musibah tsunami menjadi renungan dan introspeksi diri, tetapi malah sebaliknya,” papar Teungku Iswadi Arsyad, Selasa, 27 Desember 2016.
Teungku Iswadi Arsyad menyebutkan, tidak sedikit orang yang lupa dan bahkan hampir tidak terpikirkan akibat tsunami akhlak yang berujung lahirnya gempa kemanusiaan. Jika terjadi gempa dan tsunami (bencana alam), kata dia, semua kalangan masyarakat dan negara manapun memberikan simpati dengan berbagai bentuk sikap dan tindakan.
“Setelah terjadi tsunami dan gempa, mereka para relawan dan donator, juga elemen masyarakat, turut turun langsung ke daerah gempa untuk melakukan evakuasi dan rehabilitasi. Tetapi lihatlah berapa banyak orang yang sadar, turut prihatin, memperhatikan, dan peduli terhadap gelombang tsumani akhlak yang menimpa Aceh ini. Bahkan pemerintah sendiri terkadang tidak peduli terhadap akibat dan penanggulangan tsumani akhlak,” kata guru senior Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu.
Teungku Iswadi Arsyad menyebut hampir semua jenis tsunami akhlak yang terjadi di tengah masyarakat sudah pernah diberitakan media cetak maupun elektronik. Yang diberitakan itu dinilai hanya sebagian kecil dari kejadian atau peristiwa dan realitas tsunami akhlak yang terjadi dalam masyarakat.
“Kita mengakui ataupun tidak, yang pasti berbagai macam bentuk tsunami akhlak mulai dari masyarakat kecil, tukang atau buruh bangunan, kalangan dunia pendidikan, sampai para pengusaha, para pejabat hingga masyarakat kelas tinggi, semua sudah menggejala adanya kebrobrokan akhlak. Lantas siapa yang peduli, ujar kandidat master komunikasi IAIN Malikussaleh Lhokseumawe ini dengan penuh iba.
Putra kelahiran Pidie 1983 itu menambahkan, apabila kerugian tsunami akhlak dapat dihitung dengan angka statistik yang akurat, pastilah semua orang bakal terkejut. Semua orang akan mengutuk, prihatin dan menyadari, betapa pentingnya nilai-nilai ilmu dan kebenaran dalam kehidupan. Biasanya data dan peristiwa akan muncul apabila menjadi perhatian publik luas.