Kohler adalah Jenderal Belanda yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Kerajaan Aceh Darussalam pada invasi pertama tahun 1873
BANDA ACEH – Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, mengatakan seharusnya sebelum memperluas Masjid Raya Baiturrahman sudah ada perencanaan yang matang. Sehingga pemetaan situs tersebut bisa dibuat lebih bagus lagi.
“Pohon Keutapang itu diselamatkan bukan malah ditebang, disamping di bawahnya ada prasasti sebagai identifikasi dari keberadaan cagar itu. Kita takutkan ini seperti nasib Hotel Aceh dan Tower Air yang dibangun oleh Belanda itu,” kata Tarmizi A Hamid kepada portalsatu.com, Jumat, 20 November 2015 malam.
Dia mengaku bangga saat pemerintah memperluas Masjid Raya Baiturahman untuk menjadi lebih bagus dan modern. Apalagi masjid tersebut merupakan icon Aceh yang juga menjadi salah satu daya tarik pariwisata.
“Tapi masyarakat kecewa kalau hanya tempat situs cagar budaya yang sangat kecil ini tidak ada ruang solusi untuk diselamatkan, disamping besarnya halaman MRB kita itu. Apa salahnya situs ini sehingga harus kita korbankan,” ujarnya lagi.
Dia mencontohkan dengan perluasan jalan protokol di Banda Aceh yang tetap mengupayakan penyelamatan pohon asam (Aceh: Bak Mee). Walaupun ada beberapa diantaranya terpaksa ditebang lantaran sudah di luar pertimbangan yang matang.
“Isu ini sangat serius karena situs tersebut berada di Kompleks Masjid Raya Baiturrahman. Semua masyarakat Aceh bangga akan keperkasaan kepahlawanannya dalam pertempuran melawan penjajah di halaman MRB. Ini sebagai bukti Aceh sangat komit terhadap agama serta rumah ibadahnya dalam mempertahankan harkat dan martabat serta agamanya,” katanya.
Dia juga mengatakan banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Masjid Raya Baiturrahman saat bertandang ke Aceh. Hal tersebut lantaran adanya bak geulumpang atau dikenal Pohon Kohler di kawasan tersebut.
Sebagai catatan, Kohler adalah Jenderal Belanda yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Kerajaan Aceh Darussalam pada invasi pertama tahun 1873. Dia tewas lantaran terkena peluru penembak jitu pasukan Aceh, tepat di bawah pohon sterculia foetida yang kemudian dikenal dengan sebutan pohon kohler tersebut.
“Nasi sudah menjadi bubur, apa boleh dikata. Pepatah Aceh mengatakan ta jak u keue, ta meusadeue u likot. Bek rhoh lam seupot jeut keu salah raba. Semoga kita kedepan lebih menghargai jejak jejak masa lalu sebagai sejarah kita, karena kita hari ini hidup tidak terlepas dari mata rantai sejarah. Jangan membuat sejarah, tapi sejarah kemarin kita kuburkan,” ujarnya.[]