Muhajir mengatakan apapun alasannya menghilangkan bukti sejarah merupakan hal yang tidak dibenarkan.
BANDA ACEH Organisasi Masyarakat (Ormas) Al Kahar menentang keras tindakan penebangan bak geulumpang (Sterculia foetida) yang terdapat di halaman depan Masjid Raya Baiturrahman dalam pelaksanaan proyek perluasan bangunan. Penebangan pohon tersebut dinilai sebagai tindakan sewenang-wenang yang tidak bisa dimaafkan.
Ini adalah sikap arogan yang diperlihat oleh penguasa. Ini pelecehan bagi nilai sejarah dan penghinaan besar bagi masyarakat Aceh, ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) Al kahar, Muhajir kepada portalsatu.com, Jumat, 20 November 2015.
Muhajir mengatakan apapun alasannya menghilangkan bukti sejarah merupakan hal yang tidak dibenarkan.
Pohon kohler merupakan pohon yang penting bagi Aceh. Pohon itu menjadi saksi bisu dan bukti gigihnya perjuangan rakyat Aceh dalam melawan penjajahan Belanda, ujar Muhajir yang juga terlibat dalam advokasi penyelamatan kawasan sejarah Lamuri.
Menurut Muhajir, Pemerintah Aceh dan pelaksana proyek perluasan Masjid Raya harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut.
Walaupun pohon tersebut pohon yang ditanam ulang tahun 1988 oleh Prof. Ibrahim Hasan, namun pohon tidak boleh diganggu. Bagaimanapun caranya pohon tersebut harus ditanam kembali, ujar Muhajir.
Atas dasar itu ormas Al Kahar mengultimatum Pemerintah Aceh dan pelaksana proyek untuk meminta maaf kepada masyarakat Aceh secara terbuka.
Selain itu, ormas Al Kahar juga menyerukan kepada pemerintah untuk membangun sebuah monumen perjuangan Aceh melawan Belanda di lokasi tewasnya panglima perang Belanda, Mayor Jenderal J. H.R Kohler.
Jika hal ini tidak digubris, kami akan menghentikan proyek tersebut. Karena proyek ini telah melanggar etika dan kearifan lokal Aceh. Karena proyek ini pun dilaksanakan di kawasan yang bernilai sejarah yang seharusnya tidak ada pembangunan apapun, kata Muhajir.[]