TERKINI
NEWS

Pembalakan Liar Marak, Doto Zaini Sebut Ada Pagar Makan Tanaman

Doto Zaini mencontohkan beberapa kasus bencana alam seperti banjir dan air bah serta beberapa bencana lain di Aceh

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.1K×

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, meminta agar seluruh elemen masyarakat tidak menganggap Gerakan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional sebagai sebuah kegiatan seremonial semata. Namun justru menjadikannya sebagai sebuah semangat bersama untuk menjaga dan melestarikan hutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh di hadapan seluruh hadirin yang memadati lokasi acara Gerakan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, yang dipusatkan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Lampulo.

“Selama ini telah banyak kita lakukan kegiatan seperti ini. Yang perlu saya tekankan di sini adalah, jangan menganggap kegiatan ini sebagai sebuah seremonial belaka. Mari jadikan kegiatan hari ini sebagai sarana mengumpulkan semangat bersama untuk menjaga kelestarian hutan Aceh,” ajak Gubernur.

Pria yang akrab disapa Doto Zaini itu menjelasakan, dipilihnya PPI Lampulo sebagai lokasi kegiatan Gerakan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional, agar kawasan tersebut tertata rapi dan dipenuhi suasana hijau agar nyaman untuk dikunjungi.

Sebagaimana diketahui, pada tanggal 13 Desember, kawasan Lampulo akan menjadi lokasi puncak acara Perayaan Hari Nusantara Nasional tahun 2015.

“Insya Allah acara itu akan dihadiri oleh Presiden Jokowi. Oleh sebab itu, penghijauan yang kita lakukan di kawasan ini, selain untuk mewujudkan Kota Banda Aceh sebagai Green City, kita juga berharap dapat menjadikan kawasan Lampulo ini sebagai tempat yang nyaman untuk pelaksaan puncak Hari Nusantara Nasional nantinya.”

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan, karena sebagai sebuah ekosistem, hutan memiliki fungsi yang sangat penting bagi manusia dan lingkungan.

“Hutan tidak hanya merupakan sumber kebutuhan pangan dan energi, tapi juga tempat konservasi keanekaragaman hayati dan sumber kehidupan bagi makhluk hidup. Sayangnya, kerusakan hutan masih terus terjadi,” kata Doto Zaini.

Gubernur mengatakan kondisi tersebut diperparah lagi dengan maraknya aksi pembakaran yang menyebabkan bencana asap di Indonesia. Kondisi hutan Aceh juga tidak luput dari kerusakan. Menurut Gubernur, butuh komitmen dan aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat agar kerusakan hutan Aceh dapat dicegah demi kelestarian ekosistem hutan.

“Mari bersama-sama mengintrospeksi diri, jangan sampai kita menjadi mahluk yang kejam terhadap mahluk yang lain. Yang lebih parah lagi, jangan sampai kita menjadi pagar makan tanaman,” ujarnya.

Pagar makan tanaman yang dimaksud oleh Gubernur adalah karena maraknya aksi pembalakan liar, padahal selama ini pemerintah telah banyak melakukan perekrutan sejumlah Polisi Hutan (Polhut).

Selama ini kita telah banyak merekrut Polhut, namun yang terjadi justru semakin banyak pula luasan hutan yang terdegradasi. Oknum-oknum Polhut ini bekerjasama dengan oknum tentara dan oknum polisi untuk menebang pohon demi keuntungan sesaat mereka semata tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkannya.

Doto Zaini mencontohkan beberapa kasus bencana alam seperti banjir dan air bah serta beberapa bencana lain di Aceh. Hal tersebut menurut Gubernur merupakan akibat dari ulah segelintir orang yang hanya memikirkan keuntungan sesaat dengan menebang hutan, namun akibatnya justru dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan.

Melalui Staff Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Energi, Gubernur mengundang Menteri Kehutanan, Siti Nurbaya, untuk terjun langsung ke wilayah hutan Aceh dan menyaksikan langsung kondisi terkini hutan Aceh.

“Pak Staff Ahli, tolong sampaikan kepada Ibu Menhut untuk melakukan tinjauan lapangan langsung ke hutan Aceh dan melihat kondisi terkini hutan Aceh,” ujar Gubernur.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar