TAPAKTUAN – Ketua Harian Pembela Tanah Air (PETA) Provinsi Aceh, T Sukandi, mengutuk dan mengecam keras aksi penembakan Mukhlisin, 31 tahun, warga Kuala Idi, Kecamatan Idi Rayek, Kabupaten Aceh Timur. Menurutnya aksi penembakan itu sangat biadab karena korban dieksekusi di depan anaknya yang masih bawah lima tahun.
Kami mengutuk dan mengecam keras aksi penembakan warga di Aceh Timur, sebab meskipun motif penembakan tersebut tidak ada kaitannya dengan politik. Namun, tetap saja akan menimbulkan keresahan bagi masyarakat Aceh menjelang berlangsungnya Pilkada 2017, kata T Sukandi di Tapaktuan, Rabu, 7 Desember 2016.
T Sukandi menilai keresahan warga tersebut sangat beralasan. Pasalnya setiap menjelang berlangsungnya Pilkada di Provinsi Aceh, selalu saja terjadi aksi kekerasan menggunakan senjata api yang merenggut korban jiwa. Seharusnya, kata dia, masa kelam saat Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh 2012 lalu, tidak terjadi lagi pada Pilkada 2017 mendatang.
Terulangnya aksi penembakan ini jelas-jelas membuktikan bahwa peredaran dan penggunaan senjata api di Aceh masih marak. Meskipun pihak keamanan mengklaim bahwa senjata yang digunakan adalah senjata rakitan, namun tetap saja penggunaan senjata api secara illegal tersebut sangat membahayakan keselamatan warga, katanya.
Di samping menimbulkan keresahan bagi masyarakat menjelang Pilkada, aksi penembakan yang terus berulang di Aceh juga telah mencoreng nama baik Provinsi Aceh. Sehingga, kata dia, kondisi ini secara otomatis juga berpengaruh terhadap semakin merosotnya tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh secara rata-rata nasional.