TERKINI
TAK BERKATEGORI

Marching Band Pakai Motif Pakaian Tentara Belanda, Ini Kata Pelatih

SUBULUSSALAM - Penampilan Marching Band Gita Handayani Dinas Pendidikan Aceh turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 PGRI dan HGN tingkat Provinsi Aceh di…

DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 606×

SUBULUSSALAM – Penampilan Marching Band Gita Handayani Dinas Pendidikan Aceh turut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 PGRI dan HGN tingkat Provinsi Aceh di Lapangan Beringin, Kota Subulussalam, Sabtu, 3 Desember 2016.

Sebanyak 50 personel marching band menggunakan baju kombinasi warna kuning hitam dan merah hitam terlihat berbaris di pintu masuk menuju Lapangan Beringin menyambut kedatangan Asisten II Setda Aceh Drs. Zulkifli, M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Aceh Drs. Hasanuddin Darjo, Wakil Wali Kota Drs. Salmaza, Sekda Subulussalam H. Damhuri, S.P., M.M., serta sejumlah pejabat lainnya.

Penampilan marching band tersebut menarik perhatian pengunjung, terlebih sebagian dari mereka menggunakan motif pakaian seperti tentara Belanda. Ada sebagian dari mereka menggunakan simbol pakaian orang Aceh.

“Baju kombinasi warna kuning dan hitam itu motif pakaian tentara Belanda, karena kita dulu pernah dijajah. Sementara warna merah hitam itu simbol orang Aceh,” kata pelatih marching band, Taufit Hidayat.

Taufit menyebutkan pihaknya sengaja mendesain kombinasi dua warna supaya ada perbedaan antara tentara Belanda dengan orang Aceh.

“Untuk acara PGRI ini kami hanya penampilan marching band saja menerima tamu untuk diantar ke panggung utama,” katanya.

Taufit menambahkan grup Marching band Gita Handayani baru saja mendapat juara umum di Cibubur, Jakarta Timur, November lalu.

“Kisah yang kami angkat waktu itu menceritakan sejarah perjalanan dan perjuangan Cut Nyak Dien saat menghadapi penjajah Belanda,” katanya.[]

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar