LHOKSUKON – Sebagian masyarakat akar rumput di Aceh Utara merasa bahwa ikut serta memeriahkan kampanye rapat umum atau kampanye akbar calon kepala daerah hanya buang-buang waktu. Demikian juga dengan kampanye dialogis, baik itu dari pasangan calon gubernur/wakil gubernur maupun paslon bupati/wabup.
“Selama saya memiliki hak memilih, saya sama sekali tidak pernah ikut dalam kampanye partai mana pun, baik itu partai lokal maupun partai nasional. Saya juga tidak tertarik,” kata Tami Ketaren, 33 tahun, sopir truk asal kota Lhoksukon, Aceh Utara ditemui portalsatu.com, Sabtu, 19 November 2016.
Menurut ayah satu anak itu, mengikuti kampanye akbar maupun kampanye dialogis calon kepala daerah hanya buang-buang waktu. Sebab, kata Tami, dalam kampanye itu, masyarakat hanya diberi makan janji-janji manis, sementara setelah terpilih dibuang seperti ampas tebu.
“Habis manis sepah dibuang, begitulah kira-kira. Yang diberi janji kepada masyarakat, yang mendapat manfaatnya, ya, hanya orang-orang di sekeliling yang terpilih. Mulai dari keluarga hingga kerabatnya. Masyarakat cukup hanya dengan janji,” ucap Tami.
Zakaria alias Bang Jack, 46 tahun, penambal ban di Kecamatan Lhoksukon juga mengaku tidak tertarik mengikuti kampanye calon kepala daerah. Baginya, siapa pun yang duduk sebagai pemimpin tidak berpengaruh dalam segi apapun untuk kehidupan rakyat seperti dirinya.