TERKINI
SPORT

Catatan Guide Turis di Banda Aceh

Oleh: Aidatul Husna Menjadi guide (pemandu) adalah pekerjaan yang baru-baru ini mulai saya geluti. Sejak April 2015, saya mengikuti beberapa kegiatan berhubungan dengan pemanduan. Saat…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1K×

Oleh: Aidatul Husna

Menjadi guide (pemandu) adalah pekerjaan yang baru-baru ini mulai saya geluti. Sejak April 2015, saya mengikuti beberapa kegiatan berhubungan dengan pemanduan. Saat itu saya belum dilepas secara mandiri untuk memandu. Saya beberapa kali menjadi co-guide, baik untuk tamu domestik maupun untuk tamu asing.

Pada Februari 2016, saya mendaftarkan diri menjadi anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) daerah Aceh. Sejak resmi menjadi anggota HPI, saya sering mengikuti kegiatan pemanduan, salah satunya sebagai volunteer guide di Museum Aceh pada Sabtu dan Minggu. Kegiatan ini berlangsung di bawah komando pihak Museum Aceh. Saya dan beberapa teman guide lainnya resmi bekerja sudah dua bulan sejak September lalu.

Pada 14 November lalu, saya kembali mendapat kesempatan menjadi co-guide untuk tamu turis Kapal Pesiar Cruise Ship Silversea Discovery mengelilingi kota Banda Aceh, mengunjungi wisata Tsunami dan Warisan Budaya Aceh. Kapal tersebut membawa sekitar 80 turis mancanegara (Amerika, Jepang, Inggris, Jerman, Selandia Baru, dll.), dan mendarat di Banda Aceh sekitar pukul 14.00 WIB.

Ini pengalaman pertama saya membawa tamu asing mengunjungi kota Banda Aceh terlebih dalam kelompok. Saya kira tidak terlalu sulit, kalau kita sudah sedikit menguasai bahasa Inggris. Rata-rata dari mereka adalah kunjungan pertama ke Banda Aceh. Beberapa informasi umum seputaran Banda Aceh dan sejarah perlu dikuasai guide. Sebisa mungkin seorang guide tidak memberi informasi yang masih belum diketahui kebenarannya (hoax). Berilah informasi yang sebaik-baiknya, benar dan akurat. Hal tersebut membuat informasi guide Aceh terpercaya dan tidak simpang siur. Saya kira ini jadi pembelajaran kawula muda lainnya yang ingin menjadi guide ke depan.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Ule-Lhee, lalu situs Tsunami Kapal PLTD Apung. Setelah itu ke Museum Tsunami, lalu sekilas melewati Pasar Atjeh dan kunjugan terakhir ke Museum Aceh.

Di Museum Aceh, para tamu asing tersebut disambut dengan tarian Ranup Lampuan. Beberapa dari mereka tiada henti-hentinya memuji tarian Ranup Lampuan dan membuat saya tidak berhenti mengucapkan “Thank you for your appreciation. Enjoy Aceh”. Hingga perjalanan pulang ke pelabuhan, mereka masih merasa excited (senang) dengan penampilan tarian Ranup Lampuan. Tepat pada pukul 18.30 WIB, mereka bertolak ke Palau Weh, Sabang.[]

* Aidatul Husna, guru Bahasa Inggris dan volunteer guide di Museum Aceh.

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar