BIREUEN – Dayah merupakan salah lembaga pendidikan tertua di dunia. Dayah semakin hari semakin di minati dan menjadi incaran banyak orang tua untuk menempatkan buah hatinya di dayah. Lantas apa sih keunikan dan nilai plus yang dimiliki oleh lembaga tersebut sehingga para generasi penerus dan orang tua rela anak mereka di didik disana.
Demikian kata Taufiq Akbar (19 tahun) salah seorang santri asal Medan yang menempuh pendidikan di Dayah Riadhul Mubarak Al-Idrisiyah Tanjongan, Samalanga Senin, 7/11/2016. Menurutnya, banyak hal yang membuat ia dan kawannya termotivasi untuk belajar di dayah.
“Salah satunya kehidupan dayah yang dapat melatih diri hidup lebih mandiri. Belajar di dayah juga memberikan kita konsep pergaulan yang baik. Cara bekerja sama antar sesame santri, dan hal-hal lainnya. Dengan melihat berbagai macam kesuksesan para alim ulama yang sangat luar biasa juga dapat membuat kita termotivasi akan selalu ada dan terus ada di dayah. Juga yang tidak akan tertinggal yaitu keridhaan Allah azza wa jalla terhadap orang yang berbimbang dengan ilmu-ilmu Islam, katanya.
Taufik Akbar menggambarkan bahwa kehidupan pra dan pasca selama di dayah sangat jauh berbeda. Jangankan mengetahui kaedah-kaedah ushul, membaca al-Qur`an saja tidak lancar.
Di pikiran saya bahwa Islam itu bertuhan Allah, bernabi Muhammad, mengerjakan shalat, dan puasa, itu saja. Jangankan dikatakan orang yang taqlid di dalam tauhid, bahkan di bawah orang yang taqlid. Sudah beberapa tahun saya di dayah, sekarang baru saya mengerti bahwa apa yang saya anggap dulu itu masih sangat di bawah cukup. Seolah Islam itu sangat sempit dan tidak fleksibel, pinta santri berprestasi kelahiran Medan, Sumatera Utara, 09 November 1997.