BANDA ACEH – Komunitas Pebeudoh Sejarah Adat dan Budaya Aceh akan memperingati hari kepahlawanan tujuh jenderal perang wanita dari Kerajaan Aceh Darussalam. Kegiatan ini dipusatkan di Rumoh Cut Nyak Dhien, Lampisang, Aceh Besar, pada Sabtu, 12 November 2016 pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Komunitas ini turut mengundang beberapa narasumber sejarawan dan para pewaris Sultan Aceh. Beberapa diantaranya seperti Tuanku Warol Walidin dan Abu Rahman Kaoy. “Selain itu juga ada pembacaan hikayat tujuh jenderal wanita oleh Muammar Al Farisi,” kata Koordinator Peusaba, Mawardi Usman, kepada portalsatu.com, Rabu, 10 November 2016 dinihari.
Mawardi mengatakan Aceh memiliki tujuh jenderal perang wanita yang tercatat dalam sejarah. Nama-nama mereka tersemat rapi dalam berbagai literatur, tetapi kini mulai dilupakan.
Para jenderal wanita ini diantaranya Cut Nyak Dhien binti Teuku Nanta Setia. Wanita yang lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada 1848 ini merupakan alumni terakhir Ma'had Askeri Baital Maqdis. Lembaga tersebut adalah sekolah pelatihan perwira Turki di Aceh.
Cut Nyak merupakan istri pejuang Aceh, Teungku Syik Ibrahim Lamnga. Suami Cut Nyak ini pula yang memotivasinya sangat membenci Belanda saat agresi di Aceh, 1873. Kebenciannya terhadap Belanda memuncak kala sang suami tewas di Glee Taron pada 1878. Cut Nyak kemudian menikah lagi dengan Teuku Umar, seorang pejuang Aceh yang berasal dari pantai barat. Namun suami keduanya ini juga tewas dalam pertempuran melawan Belanda di Ujong Kalak pada 12 Februari 1899.
Sepeninggal sang suami, Cut Nyak Dhien mengambil alih komando pasukan. Dia tetap melawan Belanda hingga akhirnya mata Cut Nyak Dhien rabun senja. Kondisinya sangat mengkhawatirkan karena harus bertahan di belantara. Salah satu bawahan Cut Nyak yang sudah tidak tahan melihat kondisinya kemudian melaporkan posisi mereka kepada Belanda. Cut Nyak berhasil ditangkap penjajah dan akhirnya dibuang ke Sumedang.
“Srikandi Aceh ini meninggal di pengasingan pada 6 November 1908,” ujar Mawardi.
Mawardi menyebutkan Cut Nyak Dhien sangat gigih dan benar-benar anti-Belanda. Hal tersebut dibuktikan saat para penjajah yang iba hendak mengobati matanya yang rabun, tetapi ditolak Cut Nyak. Kepada Belanda, salah satu pahlawan wanita ini mengatakan, “mata ulong hitam bah jeut keu puteh, kafe paleh han long tem kalon rupa (mata saya hitam biarlah menjadi putih (buta) kafir jahat tidak sudi saya melihat mereka).”
Jenderal perang wanita Aceh lainnya yang juga sangat berjasa dalam perjuangan melawan Belanda adalah Cut Nyak Meutia binti Teuku Ben Daud. Dia lahir pada tahun 1880 dan berasal dari utara Aceh.
Sama halnya dengan Cut Nyak Dhien, srikandi ini juga menikah dengan pejuang yang anti-Belanda. Nama suaminya adalah Teuku Cut Muhammad, yang kemudian syahid dalam peperangan.
Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe, sepeninggal Teuku Cut Muhammad yang tewas dalam peperangan.
Suami kedua Cut Meutia ini dikenal lihai dalam mengatur strategi melawan Belanda. Sehingga ia dijuluki Napoleon Bonaparte dari Aceh di kemudian hari.
Namun seperti kebanyakan pejuang Aceh lainnya, Pang Nanggroe juga syahid melawan Belanda pada 26 September 1910. Cut Meutia kemudian mengambil alih pucuk pimpinan sisa pasukan Pang Nanggroe. Penguasa Keureuto itu akhirnya syahid dalam perjuangan gerilyanya di rimba Pasai pada 22 Oktober 1910.
“Beliau dikenal dengan nama Brave From the North yakni sang pemberani dari Utara,” ujar Mawardi.
Jenderal wanita selanjutnya yang patut diingat generasi muda Aceh adalah Teungku Fakinah Binti Teungku Mahmud. Dia adalah Komandan Divisi Inong Bale terakhir. Senada dengan nama divisinya, pasukan Inong Balee terdiri dari 2-3 ribu pasukan wanita janda perang. Markas mereka berada di Lamkrak, Aceh Besar.
Ketika Teuku Umar menyerah kepada Belanda pada 1893-1896, Teungku Fakinah lah yang kemudian menyadarkan suami Cut Nyak Dhien itu untuk kembali ke pangkuan ibu Pertiwi.
Melalui suratnya, Teungku Fakinah menantang Teuku Umar untuk berhadapan langsung dengan pasukan Inong Balee yang dipimpinnya.
Tantangan ini membuat Cut Nyak Dhien malu.