TERKINI
EKBIS

Dewan: Serapan Anggaran Rendah, Ekonomi Lhokseumawe Lemah

LHOKSEUMAWE – Wakil Ketua Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRK Lhokseumawe Muklis Azhar merasa prihatin dengan kondisi perekonomian masyarakat. Pasalnya, serapan anggaran daerah masih rendah membuat…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

LHOKSEUMAWE – Wakil Ketua Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRK Lhokseumawe Muklis Azhar merasa prihatin dengan kondisi perekonomian masyarakat. Pasalnya, serapan anggaran daerah masih rendah membuat pertumbuhan ekonomi sangat lemah.

“Saya prihatin melihat keadaan seperti ini, sayang masyarakat Lhokseumawe,” ujar Muklis Azhar akrab disapa Pak Ulis kepada portalsatu.com melalui telpon seluler, Selasa, 8 November 2016.

Pak Ulis mengaku banyak menerima keluhan dari masyarakat terkait kondisi perekonomian mereka yang masih terpuruk. Bahkan, kata dia, sejumlah PNS dan kontraktor juga mengeluh lantaran harga barang di pasar mahal. Sementara sebagian proyek sumber dana APBK kabarnya belum dilelang.

“Kita terbuka saja, saat ini ekonomi Lhokseumawe masih bergantung pada APBK. Artinya, ketika daya serap anggaran kurang, efeknya ekonomi tidak bergerak,” kata Pak Ulis.

Berdasarkan laporan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Kota (SKPK), kata Mukhlis Azhar, realisasi pelaksanaan program atau kegiatan belanja tidak langsung dan belanja langsung masih minim. “Dengan kondisi seperti ini, apa tindakan Pemko Lhokseumawe, apakah berdiam diri saja,” ujarnya.

Pak Ulis berharap ada langkah nyata dari pengambil kebijakan di Pemko Lhokseumawe menyikapi kondisi ini. Sebab, kata dia, jika keadaan ini terus berlanjut dikhawatirkan semakin berdampak tidak sehat terhadap perekonomian masyarakat.

“Kalau APBK bergulir, proyek-proyek berjalan lancar dalam sisa masa anggaran sekitar 1,5 bulan lagi, tentu ekonomi Lhokseumawe akan bergerak sedikit. Tapi, apakah mungkin hal itu akan terwujud,” kata Pak Ulis.

Artinya, kalau sebagian proyek fisik—yang kabarnya sampai saat ini belum dilelang—kemudian tetap dilelang dalam masa sisa tahun anggaran semakin sempit ini, mungkinkah pekerjaan mampu diselesaikan. Pasalnya, proses pelelangan saja membutuhkan waktu lebih sebulan.

“Apalagi saat ini sedang musim hujan. Bahan baku (material proyek) susah didapat dan mahal. Apakah SKPK berani melelang proyek-proyek itu, dan apakah pihak rekanan nantinya mau melaksanakan pekerjaan dengan kondisi seperti ini,” Pak Ulis mempertanyakan.

Pertanyaan lainnya, kata Pak Ulis, apakah Pemko Lhokseumawe saat ini punya cukup uang (anggaran) untuk membiayai sejumlah proyek atau kegiatan yang telah dialokasikan dalam APBK Perubahan tahun 2016. Ia berharap pengambil kebijakan di Pemko Lhokseumawe bersikap transparan kepada publik terkait kondisi saat ini.[](idg)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar