Gemuruh tepuk tangan audiens kerap terdengar saat para penari jeda dari gerakannya.
BANDA ACEH – Sejumlah tarian daerah mengisi seremonial puncak peringatan 10 Tahun MoU Helsinki, yang dihelat di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu, 15 November 2015. Tari pembuka berasal dari Aceh Tamiang.
Para penari yang berpasangan tersebut dilengkapi dengan pakaian adat bercorak merah dan kuning.
Sementara tarian yang mampu membuat decak kagum penonton adalah Tari Saman khas Gayo. Tarian ini dibawakan oleh para pria gondrong yang turut menyisipkan kata sambutan untuk Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Gemuruh tepuk tangan audiens kerap terdengar saat para penari jeda dari gerakannya.
Selain Saman, penampilan dari Sanggar Geunaseh yang membawa tarian Rampoe juga memeriahkan puncak peringatan damai tersebut. Tarian ini dibawakan oleh delapan penari dan enam orang pemain musik. Mereka memakai pakaian adat bercorak hijau dan kuning.
Para penari ini berasal dari berbagai daerah di Aceh seperti Lhokseumawe, Banda Aceh, Bireun, dan Abdya. Sanggar seni ini berdiri sejak 2009 di bawah binaan Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, kata Iqbal Fahreza, salah satu penari Sanggar Geunaseh saat ditemui portalsatu.com di lokasi.
Sanggar yang dipimpin oleh Reza Pahlevi ini juga pernah tampil di panggung internasional seperti di Singapura dan Malaysia.[]