BESI itu sebesar betis orang dewasa dan setinggi lutut anak usia sekolah dasar. Itulah pangkal tiang gantungan yang menjadi saksi bisu eksekusi mati terhadap Teuku Chik Di Tunong dan Teuku Chik Di Buah. Pada tiang gantungan tersebutyang kini tersisa sekitar 30 cmdua pejuang Aceh itu dihabisi oleh regu tembak pasukan Belanda, 25 Maret 1905.
Teuku Chik Di Tunongnama aslinya Teuku Cut Muhammadadalah suami pahlawan nasional Cut Meutia. Sedangkan Teuku Chik Di Buah merupakan rekan seperjuangan Teuku Chik Di Tunong. Keduanya pejuang sejati yang lihai merancang strategi gerilya untuk mencincang serdadu penjajah.
Dikutip dari buku Perjuangan Cut Meutia di Rimba Pasai yang ditulis Ali Akbar, Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara tahun 1987, Teuku Chik Di Tunong dan Teuku Chik Di Buah ditangkap oleh pasukan Belanda pada 5 Maret 1905 dan ditahan di Penjara Lhokseumawe.
Kedua pejuang Aceh itu dituduh sebagai perancang penyerbuan Meurandeh Paya di Aceh Utara yang menewaskan tentara Belanda dalam jumlah cukup banyak. Mulanya, Belanda memutuskan Teuku Chik Di Tunong dan Teuku Chik Di Buah dihukum gantung di tiang gantungan. Namun, hukuman gantung dibatalkan oleh Gubernur Militer Van Daalen di Banda Aceh. Diganti dengan hukuman tembak walau persiapan tiang gantung telah disiapkan di pantai Lhokseumawe (Kampung Jawa Lama).
Setelah 20 hari ditahan, Teuku Chik Di Tunong dan Teuku Chik Di Buah dibawa ke tepi pantai Kampung Jawa Lama, 25 Maret 1905. Di sana sudah ada tiang gantungan dan regu tembak. Dua patriot bangsa itu minta matanya tak ditutup sebagai jiwa besar. Mereka gugur sebagai kesuma bangsa. Atas permintaan Maharaja Lhokseumawe, dua pahlawan itu dimakamkan di Desa Mon Geudong, Lhokseumawe, tulis Ali Akbar.
***
Pangkal tiang gantungan tersebut tertancap di Lorong Kokonas, Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Lorong sempit itu berada di tengah pemukiman penduduk yang amat padat. Rumah-rumah di lorong tersebut berdempetan, sebagian di antaranya berkonstruksi kayu sudah lapuk.
Masuk dari Jalan Samudra Lama, Lorong Kokonas tembus ke pantai. Posisi pangkal tiang besi tadi berjarak sekitar 70 meter dari bibir pantai. Lorong Kokonas berselang satu lorong lainnya di sebelah kiri Kompleks SMKN 2 Lhokseumawe. Atau sekitar 200 meter dari persimpangan di sisi kanan rumah dinas Kapolres Lhokseumawe. Lorong tersebut berada di kawasan pusat kota, sehingga mudah dijangkau siapa pun.
Saat saya kunjungi kembali 4 Oktober 2016, kondisi pangkal tiang gantungan itu masih sama ketika pertama kali saya datang ke sana, 28 Juli 2012. Belum dipugar sebagai situs sejarah yang harus diselamatkan dan dilestarikan.
Sudah beberapa kali pejabat Pemko Lhokseumawe datang ke sini, melihat sisa tiang gantungan ini. Pak Suaidi (Suaidi Yahya, Wali Kota Lhokseumawe) juga sudah datang. Katanya akan dipugar, tapi entah kapan, ujar Fitriah, warga Lorong Kokonas yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari pangkal tiang gantungan itu.
Perempuan berusia lebih 30 tahun itu mengaku sejak ia masih kecil, tiang gantungantempat dieksekusi Teuku Chik Di Tunong oleh pasukan Belandatersebut sudah tersisa sekitar 30 cm. Menurut ibu saya, tiang gantungan itu sudah cukup lama dipotong, tapi siapa yang memotongnya, tidak diketahui, kata Fitriah kepada saya, 4 Oktober 2016.
Keterangan Fitriah sama dengan T.M. Rizal, warga Kampung Jawa Lama ketika saya temui 28 Juli 2012. Saat saya masih bocah, tiang ini sudah sependek ini. Padahal menurut ibu saya, dulu tiang ini tingginya lebih 2 meter dan berbentuk seperti tiang gantungan, ujar pria 40 tahun lebih ini.
Berdasarkan cerita diperoleh Rizal semasa orangtuanya masih hidup, pada tiang besi itulah Teuku Chik Di Tunong dan Teuku Chik Di Buah diikat dan ditembak mati oleh penjajah Belanda.
Pahlawan bangsa itu ditembak dari jarak sekitar 50 meter. Itu ada beton yang kabarnya tempat pasukan Belanda berdiri saat menembak Teuku Chik Di Tunong, kata Rizal yang rumahnya juga tidak jauh dari pangkal tiang besi itu.
Saya temui terpisah, 28 Juli 2012, Cut Zuraida Binti Raja Sabi, 77 tahun, cucu dari Teuku Chik Di Tunong-Cut Meutia mengatakan, Dulu saat saya masih muda dan baru pertama tiba di Lhokseumawe, tiang besi itu masih utuh berbentuk tiang gantung lengkap dengan rantai.
Didampingi salah satu putrinya, Cut Nurlita, 47 tahun, Cut Zuraida mengaku tidak tahu sejak kapan tiang besi itu dipotong hingga tinggal setinggi lutut anak usia SD. Bukan harapan keluarga, tapi maunya kita semua sebaiknya pemerintah memugar situs sejarah itu sebelum hilang, kata Cut Nurlita yang merupakan cicit Teuku Chik Di Tunong.
Cut Nurlita mendapat informasi dari warga Kampung Jawa Lama, dulunya sering datang para peneliti sejarah dan kalangan pelajar ke desa itu untuk melihat tiang besi tempat Teuku Chik Di Tunong dieksekusi mati oleh serdadu Belanda.