TERKINI
HEALTH

Memahami Agama Secara Rasional

ALLAH mencipatakan manusia dalam bentuk yang sangat istimewa dan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Bentuk kesempurnaan tersebut diberikannya manusia akal untuk membedakan antara yang benar…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 3.2K×

ALLAH mencipatakan manusia dalam bentuk yang sangat istimewa dan sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Bentuk kesempurnaan tersebut diberikannya manusia akal untuk membedakan antara yang benar dan salah, maka akal itulah merupakan karunia Allah yang sangat berguna.

Jikalau manusia mampu mempergunakan akal sebagaimana mestinya tentu akan diberikan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Pemahaman agama yang benar tentunya harus dicapai lewat dua konsep yakni dalil naqli yang datangnya dari wahyu Allah SWT, dan sunnah Rasul serta dalil aqli yang berdasarkan hasil pemikiran manusia, maka kedua dalil tersebut harus dipergunakan untuk mencapai suatu kebenaran agama Islam.

Memahami agama dengan akal saja tidak akan bisa memperoleh suatu kebenaran dengan mengabaikan dalil naqli serta tidak dibolehkan pula hanya semata-mata menggunakan rasio atau akal semata. Selagi orang masih menganggap dirinya seorang muslim, sama sekali tidak boleh mengabaikan kitabullah dan sunnah rasul-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang dalam menilai mana perbuatan yang baik dan buruk. Kalau Islam melarang salat sunat sesudah subuh dan sesudah asar, amal itu sendiri tidak tidak baik dilakukan walaupun menurut penampilan lahiriah tampak baik.  Penjelasan H. M. Al-Husaini di atas dapat dipahami bahwa umat Islam dalam menjalankan ajaran Islam tidak boleh mengabaikan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya dalam menilai perbuatan yang baik dan yang buruk.

Allah telah memberikan manusia sebuah keutamaan yang menyebabkan dia lebih tinggi dari pada makhluk yang lain bahkan malaikat sekalipun apabila mempergunakan akalnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun pemberian Allah itu akan sia-sia bahkan dia berada di bawah derajat binatang manakala nafsu sebagai patron dalam hidupnya. (Hamka, Pandangan Hidup Muslem, (Jakarta: Bulan Bintang, 1961),

Sementara itu Bey Arifin dalam “Samudra Al-Fatihah’ menyebutkan bahwa bertambah maju kehidupan manusia, bertambah maju pula pikirannya.  Sedangkan binatang hanya memiliki insting saja sehingga kehidupan binatang tidak akan ada kemajuan. Manusia dengan mempergunakan akal sehatnya, kini telah mampu dan berhasil menciptakan bermacam-macam alat teknologi yang modern.

Perkembangan zaman yang maju tanpa didukung oleh iman dan taqwa (imtaq) yang mantap tidak akan memperoleh kebahagian dunia dan akhirat nanti. Maka akal itulah merupakan senjata paling ampuh dan sangat berharga yang di anugerahkan Allah SWT serta dibarengi dengan imtaq.

Salah satu senjata atau kekuatan pemberian Allah SWT yang sangat berharga yang dimiliki oleh setiap insan di muka bumi ini berupa akal serta dibantu oleh pancaindra yang lima. Akal dapat membedakan antara hitam dan yang putih, tinggi dan rendah, buruk dan baik, merugikan dan menguntungkan, membahagiakan atau yang mencelakakan. Bahkan dengan akal itu manusia sudah berhasil dapat menciptakan alat-alat teknik yang modern.

Jelaslah dengan demikian bahwa akal atau rasio yang dianugrahkan Allah SWT merupakan fasilitas untuk memperoleh kemajuan dan kebahagian, maka haruslah diaktualisasikan pemahaman dengan menggunakan rasio, lebih lagi di kalangan pemuda.

Agama Islam banyak sekali ajarannya mengandung prinsip sosial, pendidikan, dakwah, moralitas dan kejiwaan sebagaimana yang terkandung dalam pokok agama sebagaimana disebutkan dalam rukun Islam dan rukun iman. Islamisasi haruslah diaktualisasikan secara rasional dengan menggunakan pola kehidupan yang praktis dan bijaksana melalui pendekatan sosiologis pedagogis dan psikologis. Sehingga dari sanilah akan lahir hikmah dan faidah ajaran agama Islam dari berbagai aspek kehidupan.

Itulah sebabnya pentingnya aktualisasi pemahaman agama pada pemuda, karena dengan aktualisasi agama itu pemuda akan sangat tertarik untuk menggali dan menelaah ajaran agama dan mengamalkan dengan penuh kesadaran serta penghayatan yang mendalam dalam kehidupan sehari-hari (Muharram, Kompleksitas Kehidupan Beragama Dalam Dunia Remaja Dan Beberapa Alternative Pembinaannya, Depag. 1985.)

Demikianlah kehebatan manusia dengan mempergunakan akalnya begitu pula kejelekan manusia juga dengan akalnya pula. Beranjak dari itulah manusia harus diberikan kekuatan atau senjata yang paling ampuh, yaitu dengan jalur agama Islam. Bila mana manusia mendapat hidayah Allah, maka akalnya tidak berjalan dengan sendirinya malah selalu terarah yang sesuai dengan tuntutan agama. 

Seseorang yang ingin mencapai derajat yang paling tinggi hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan kedekatan tersebut manusia akan selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan  jangan sampai bergeser dari norma  agama, sehingga menganalisa sesuatu tidak mengedepankan akal semata-mata. Mengaktualisasikan pemahaman keagamaan di kalangan pemuda ditekankan dengan cara menyajikan dan membangkitkan daya pikir secara rasional disamping mengemukakan dasar-dasar dari kitabullah dan sunnah rasul.

Dengan cara tersebut lebih cepat diterima dan dipahami. Maka cara pendekatan rasional lebih maksimal di terapkan di kalangan pemuda.[]

*Staf pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Jamaah Tarekat Naqsyabandiah

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar