TERKINI
TAK BERKATEGORI

Derita Salmawati yang Luput dari Perhatian Pemerintahan Cek Mad

RUMAH itu terlihat kusam, dinding papan dan atap rumbia sudah dimakan usia. Banyak lubang besar yang sudah menganga. Dari lubang-lubang itu, siang hari, cahaya matahari…

MAULANA AMRI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 5.7K×

RUMAH itu terlihat kusam, dinding papan dan atap rumbia sudah dimakan usia. Banyak lubang besar yang sudah menganga. Dari lubang-lubang itu, siang hari, cahaya matahari menyilaukan seisi rumah.

Tak ada satu kamar pun dalam rumah berukuran sempit itu. Di dalam hanya tampak lemari tua yang pintunya entah kemana. Sementara dua tempat tidur dari batang pinang beralaskan tikar. Rumah itu ditopang kayu-kayu tua, termasuk batang pinang agar tidak roboh diterpa angin.

Kala melihat ke dapurnya, kondisinya semakin menyayat hati. Dindingnya berkonstruksi bambu yang telah dibelah-belah. Tampak rak piring, itupun sudah berkaratan. Sedangkan tempat memasak jangan ditanya lagi, hanya kelihatan tungku dan dangdangan yang hitam pekat berlumur debu hasil memasak dengan kayu bakar.

Ya, rumah itu terletak di Gampong Cot Petisah, Kecamatan Seunudon, Kabupaten Aceh Utara. Rumah yang hanya berjarak seratusan meter dari kediaman Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Teungku Muharuddin.

Rumah itu milik Salmawati, 39 tahun. Rumah yang dia huni selama ini tidak layak di sebut hunian. Rumah itu barangkali lebih pantas disebut “geurupoh”. 

Sebab, atap rumbia rumah itu sudah berlubang, dinding untuk penahan angin masuk sudah lapuk, pintu hanya bermodalkan kayu usang alakadar, dan lantainya pun masih bergelombang, Gelombang itu akibat tidak disemen alias masih berlantai tanah. Namun, bagi Salmawati dan keluarganya, rumah itu ibarat hotel bintang lima yang menjadi hunian para pejabat dan konglomerat.

“Nyoe rumoh ata geukubah le ureng chik lon. Leuh meunikah, lon ngen suami, 17 thon ulikot ka tinggai disinoe. Awai get bacut, cuma nyoe katuha teuma hana ngon meugantoe,” kata Salmawati saat dikunjungi portalsatu.com, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Salmawati menceritakan, kala hujan turun, air dengan mudah membanjiri gubuknya yang masih beralaskan tanah tersebut. “Kalau hujan deras, air hujan masuk dari atas rumah. Ya, saya hanya bisa menampungnya dengan ember. Kalau lantai pastinya becek tidak karuan,” ujar perempuan ini sembari menggendong anaknya yang kecil.

Salmawati  tinggal di gubuk tersebut sudah lebih 17 tahun lamanya. Sebelumnya, rumah yang ditempati keluarganya tersebut merupakan peninggalan orang tuanya. Namun hinnga kini rumah tersebut tak mampu direhabnya.

“Lon ureung hana. Suami (Abdul Rahman) geujak meukat sira sagai. Nyan pih atra gop. Oh na lagot berarti na peng. Meuhan lagee haba nyan sit,” kata ibu empat anak ini.

Dengan keterebatasannya itu, Salmawati juga kembali diuji oleh Yang Maha Kuasa. Anak bungsunya, Aisyah yang berusia 2 tahun itu mengalami penyakit jantung. 

“Mumang tat lon, peng hana. Rumoh lagee nyoe rupa. Aneuk pih yang tuloet keunong peunyaket jantong. Hana lon tuoh peugah le. Yang jeut lon saba ngen meudoa sagai uroe malam,” kata Salmawati dengan mata berkaca-kaca.

Salmawati menyebutkan anaknya itu diketahui sakit sejak umur setahun. Beberapa bulan kemudian dia memeriksa anaknya ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh hasil bantuan swadaya masyarakat. Namun pihak rumah sakit memintanya untuk melakukan pengobatan rutin. 

Dia mengakui biaya pengobatan memang ditanggung pemerintah, tapi biaya transportasi dan keperluan lainnya tak ada, apalagi harus menginap.

“Bek lam an lon jak u Banda dan jak peugot rumoh, meu ngon bloe breueh pih karap hana,” ujar Salmawati.

Kondisi ini diamini Abdul Rahman, 50 tahun, suami Salmawat). Dia mengaku tak bisa berbuat apa-apa atas cobaan yang sedang dialaminya. Pria ini hanya pedagang garam, itupun punya orang lain.

“Long meukat sira, nyan atra gob pih. Nyoe na lagot 50 kilo na lon teume peng 50 ribee, meunyoe hana ya diyup nyan na raseki,” kata Abdul Rahman.

Rahman menceritakan, dirinya mau bekerja apapun untuk mendapatkan rezeki yang halal. Dia mengaku pernah melamar menjadi tukang kebersihan di Pantonlabu, tapi tidak beruntung. Pernah pula dia pergi ke hutan untuk membuka lahan. Di sana, dia juga ditolak karena tidak mahir. 

“Ho yang lon jak galom na raseki. Teuma na blang ata ureueng chik ma aneuk mit nyan pih hana ie. Han jeuet tajak,” kata Rahman dengan wajah bingung.

Rahman dan Salmawati pun sebatas mengetahui jika dirinya adalah salah satu warga yang hidup di bekas daerah konflik, kawasan basis kombatan berlalu lalang sebelum Aceh damai.

Akan tetapi, keluarga tersebut, tidak mau berlarut dengan sandiwara yang sedang dimainkan oleh penguasa.  Walaupun dengan kondisi gubuknya rusak dan kondisi daerahnya yang bergelimangan anggaran, mereka tetap tegar untuk menjalani sisa-sisa hidupnya. 

“Sekarang yang perlu saya dan keluarga perbuat hanya beribadah. Jika memang pemerintah tidak membantu, biarlah Allah yang membantu saya kelak,” tutur Rahman.

Kondisi ini jika dilihat sangat berbanding terbalik dengan sesumbar Pemerintah Aceh Utara yang katanya ingin menyejahterakan masyakarat.

Menurut data dikutip pada laman resmi Pemkab Aceh Utara (www.acehutara.go.id), selama Bupati Muhammad Thaib (Cek Mad) berkuasa tercatat 2.493 unit rumah miskin telah dibangun atau direhab. Dengan data demikian dan kondisi rumah Salmawati yang begitu miris, patut dipertanyakan: “Di mana pembangunan rumah 2.493 unit itu dibuat, apakah tepat sasaran atau tidak?”[]

MAULANA AMRI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar