KEPINGAN roda kendaraan terus berotasi meluncur arah mendaki sesekali turun naik. Sepasang bola mata yang barusan sempat terlelap dalam alam bawah sadar, kini terbangun seakan-akan berada di surga nan indah dengan pamandangan visual dihiasi pepohonan dan kehijauan perbukitan dan gunung yang masih menjadi paru-paru dunia, walaupun tangan jahil masih tetapmenggoda dan memperkosa keelokan bumi negeri antara. Mereka tanpa malu merebut keperawanan alam negeri perbukitan itu.
Kalian orang sebagai bangsa yang mulia di ateuh bumoe, teganya merebut keperawanan kami, dengan dalih pembangunan dan lain sebagainya. Kira-kira begitulah ungkap sang pepohonan rindang yang masih berdiri tegak menemani dan menyapa diri untuk anak adam dengan suara merintih dan penuh iba ikut diamini oleh lembah bukit yang sudah di jarah oleh tangan jahil tidak bertanggung jawab.
Roda besi made in Jepang terus berotasi secara serampak mengikuti arahan sang supir. Dengan belok-belokan jalannya yang banyak dengan menempuh dan menjelajah jalan berkelok-kelok di samping keretakan elok dan mempesonanya pemandangan Gunung Geureudong dalam musafir ke negeri dingin itu. Sebuah kota kecil dan hingga berhentilah sang besi berjalan itu di dataran tinggi berhawa dingin bernama Pondok Baru. Keindahan dan dingin serta hembusan hawa dan angin, suasana Pondok Baru seakan mengingatkan kita berada di Pinggiran Kota Sinsheim, Jerman.
Kota Pondok Baru kini setelah pemekaran telah menjadi bahagian dari kabupaten Bener Meriah bukan lagi bagian dari Kota Takengon, Aceh Tengah. Kebun kopi dan beraneka ragam tanaman masyarakat yang menghiasai kesuburan Pondok Baru melengkapi sang kota dingin itu. kedinginan Pondok Baru akan terasa berbeda bila kita berada di tempat lain di kabupaten tersebut.
Susana kota kecil itu semakin meriah dan ramai dengan berdiri ruko yang bertingkat nan megah. Para pedagang mayoritasnya dikuasai oleh masyarakat “Cina Hitam” Pidie bahkan hampir 80 persen mereka kuasai seolah mereka hendak memproklamirkan ini “negeri kami”. Tapi itu hanya kesimpulan yang terlalu ambisius dan egoisme serta rasisme.
Sebuah tatanan kehidupan tidak akan maju seperti majunya. Pondok Baru tanpa ada relasi, kerukunan dan toleransi yang baik antara masyarakat pendatang dan tempatan. Masyarakat di sini antara pendatang dan pribumi, mereka sudah membaur dan tidak ada istilah dibeda-bedakan serta mereka saling bantu membantu laksana kaum Ansar dan Muhajirin pada masa Rasulullah Saw, untuk mereka bukan sekedar sejarah sebuah kenangan dan tulisan yang dibukukan dan disusun rapi, tetapi mereka mampu merealisasikannya.
“Kami yang telah lama menetapkan dan bermasyarakat di sini, masyarakat pribumi menaruh hormat dan saling berbagi, membantu serta membaur laksana satu komunitas, tidak ada perbedaan walaupun kami berbeda suku,” ujar Bang Im, panggilan anak dari pasangan Mahmud-Aminah seorang pedagang yang berasal dari Kembang Tanjung, Pidie yang telah lama menetap dan menjadi penduduk Pondok Baru di sela-sela menghirup kopi khas Gayo kepada penulis, Selasa, 20 September lalu.
Sang saudagar muda nan sukses itu menyebutkan fenomena di Kota Pondok Baru ini sudah berlangsung lama dengan penuh keakraban suku yang mendiami Kota Pondok Baru telah mengangkat perdangan, perkebunan dan lainnya. Status Pondok Baru menjadi salah satu kota sentral di negeri dingin Bener Meriah yang diresmikan pada tanggal 18 Desember 2003 itu. Mata kita akan terhibur dengan pemandangan visual lewat pohon pinus di sisi Anda plus dimanjakan dengan serangkaian vegetasi tropis dihiasi dengan rumah semi permanen, dan wajah tertegun dari anak-anak lokal saat mereka bercanda ria dengan sesama dihiasi pepohonan dengan ratusan hektar pohon kopi.