MEULABOH – Polemik mengenai pasukan Bawah Kendali Operasi (BKO) yang diwacanakan akan diturunkan ke Aceh pada pilkada 2017 kembali mendapat reaksi. Kali ini reaksi tersebut berasal dari kalangan organisasi pelajar, pemuda dan mahasiswa di Aceh Barat yaitu, Kpw Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR), Komunitas Pemuda Pro Demokrasi (KPPD) Aceh Barat, dan Aliansi Pelajar Mahasiswa Pintas (Pendidikan Anti-ketertindasan) Aceh Barat yang tergabung dalam Komunitas Demokrasi Progresif (KDP). Ketiga organisasi tersebut pada dasarnya menolak kehadiran pasukan BKO yang diperkirakan akan diturunkan sebanyak 1.900 atau 2000 personil tersebut
Ketua Divisi Pendidikan dan Kurikulum KPW SMUR Aceh Barat, Rino Abonita, dalam siaran persnya mengatakan kehadiran pasukan BKO ditakutkan hanya akan mengobok-obok mental psikologis warga Aceh yang dulunya pernah memiliki preseden buruk terkait BKO.
Kalo ditanya setuju atau tidak, jelas kami tidak setuju, bahkan menolak keras kehadiran pasukan BKO tersebut yang juga rencananya akan diperbantukan oleh pasukan TNI sebagai tambahannya. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, wacana penurunan pasukan BKO tersebut saat ini telah melanglang buana di media, beberapa petinggi dari kalangan ekskutif dan legislatif maupun kalangan sendiri Polri merespon telah secara positif (setuju), ujar Rino melalui siaran pers, Rabu, 28 September 2016.
Beberapa waktu lalu kata Rino, pihaknya pernah berbincang-bincang dengan sejumlah warga korban konflik terkait wacana penurunan pasukan BKO. Mendengar kata BKO saja, warga cukup bergidik. Bahkan ada warga yang mengatakan keengganannya untuk ikut berpartisipasi pada pesta demokrasi lima tahunan itu. Han kamoe, nteuk ka ipoh teuma ngen gagang beude kamoe, kata Rino mengutip kegusaran seorang warga.
Ini artinya mentalitas trauma konflik tersebut masih cukup signifikan mengakar dalam pikiran orang Aceh terlebih yang pernah mengalami dampak konflik secara langsung.
Sementara itu, Ketua KPPD Aceh Barat Syah Bakrie memberi penjelasan yang tidak jauh berbeda berbeda terkait ketidaksetujuannya atas wacana penurunan pasukan BKO pada 2017 tersebut.