Pernahkah Anda mengalami luka di hidung? Namanya luka pasti berbau tidak sedap. Tapi karena luka di hidung apa daya. Bau tak sedap itu akan tercium setiap tarikan nafas. Itulah tamsil bagi Pemerintah Aceh saat ini untuk PDPA. Sepanjang sejarahnya, perusahaan ini adalah parasit bagi pemerintah dan rakyat Aceh.
Perusahaan ini menjadi sarang empuk penyamun anggaran dan penggelapan. Bertahun-tahun anggaran untuk modal usaha “lage taplee sira u laot“, begitu juga hibah aset. Misalnya, pascatsunami, tapi kini semua aset itu hilang tak berbekas.
Berbagai usaha telah dilakoni, namun ujung kisah usaha mereka “choh ujong“. Jangankan laba, modal pun lenyap. Mengapa demikian? Tak sulit menjawabnya. PDPA adalah karpet merah KKN penguasa sepanjang perusahaan berdiri. PDPA menjadi sarana “hiro meulintee bak nujoh gob” bagi penguasa. Menempatkan kroni dan keluarga adalah hal wajib setiap manajemen usaha pemerintah ini.
Kemarin, PDPA Kembali mendapat pengurus baru. Ini perombakan ke empat sejak Gubernur Zaini berkuasa. Kabarnya, manajemen baru ini hasil seleksi. Artinya, bukan manajemen yang sepenuhnya di ujung telunjuk Gubernur Aceh.
Semoga saja ini benar benar sejarah baru. Sejarah baru bahwa PDPA punya manajemen profesional. Walaupun yang kemarin dilantik, kita juga belum pernah dengar kiprah bisnisnya. Tapi mari bersangka baik dan beri kesempatan merea bekerja.
Ini juga sejarah baru bagi Gubernur Aceh. Pasalnya, kali ini dia memberhentikan iparnya Imran A. Hamid. Ini benar-benar keberanian yang amat sangat bagi beliau. Hal ini tidak terbayangkan akan terjadi. Sebelumnya penempatan orang orang “First Lady” tidak mampu dibendung oleh kekuatan apa pun.
Semoga saja pergantian Imran A. Hamid kemarin tidak ada kejadian genting di istana. Kita tidak mau ada cerita seperti kisah “ngambeknya” Megawati karena pengumunan Jokowi membatalkan pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri beberapa bulan lalu. Maka kita patut mengapresiasikan Gubernur Aceh atas keberanian ini.