TERKINI
INSPIRASI

Staf Ahli DPR RI: Biaya untuk Pengobatan Korban Rokok 10 Kali Lipat dari…

BANDA ACEH - Kondisi Indonesia yang sudah mulai darurat tembakau memunculkan gerakan-gerakan yang menyuarakan antitembakau di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini dipicu dengan munculnya…

portalsatu.com Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.3K×

BANDA ACEH – Kondisi Indonesia yang sudah mulai darurat tembakau memunculkan gerakan-gerakan yang menyuarakan antitembakau di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dipicu dengan munculnya berbagai kasus merugikan yang disebabkan tembakau. Seperti pekerja anak, perokok pasis hingga perokok berat.

Tokoh muda Aceh Hijrah Saputra mengatakan, kondisi ini membuat Center for Indonesia Strategic Development Initiative (CISDI) berinisiatif membuat diskusi publik dan meluncurkan public policy “Pengendalian Tembakau Menuju Generasi Muda Berkualitas” di Museum Kebangkitan Nasional (Gedung Stovia) Jakarta, 30 Agustus 2016 lalu.

Hijrah yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi itu mengatakan, Aceh merupakan salah satu provinsi yang tertinggi jumlah perokoknya, di atas rata-rata perokok di Indonesia.

“Semoga diskusi ini bisa mempersatukan visi misi bersama, semoga nantinya ada kebijakan yang bisa mengurangi jumlah perokok dan risiko bahaya dari penggunaan tembakau,” kata Hijrah kepada portalsatu.com, Sabtu, 3 September 2016.

Faktanya kata Hijrah, meski rokok menghasilkan pendapatan yang cukup besar, tapi biaya pengeluarakan yang digunakan untuk pengobatan korban perokok hingga 10 kali lipat dari pendapatan yang dihasilkan oleh rokok.

Jangan sampai kata pemuda asal Sabang yang kini menjadi staf ahli anggota DPR RI ini, bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia pada 2030 bukan menjadi bonus tapi malah menjadi beban negara. Karena itu, perlu diantisipasi sejak awal.

“Masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah pola hidup daripada harus bergantung dengan tembakau,” katanya.

Selain Hijrah, diskusi itu juga menghadirkan tokoh-tokoh nasional seperti Faisal Basri, Andreas Harsono, dan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.[](ihn)

portalsatu.com
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar