Beberapa hari lalu media ini kembali mewartakan tentang kemiskinan di Aceh. Menurut data Badan Pusat Statistik, kemiskinan di Aceh tahun 2015 meningkat. Penduduk miskin terbanyak…
Beberapa hari lalu media ini kembali mewartakan tentang kemiskinan di Aceh. Menurut data Badan Pusat Statistik, kemiskinan di Aceh tahun 2015 meningkat. Penduduk miskin terbanyak di pedesaan.
Aceh sangat bergantung dengan belanja pemerintah. Ekonomi Aceh 80% bergantung pada belanja APBK dan APBA. Karena sektor produksi tidak terlalu berkembang. Pertanian pun hanya menyumbang sedikit bagi ekonomi Aceh. Ini amatlah berbahaya dalam jangka panjang.
Kita miskin tenaga terampil di sektor moderen. Kita sulit mendapat investasi dari luar. Kita sulit bersaing. Kita sulit mengakses pasar. Kita masih juga sebagai daerah dengan ekonomi primitif. Apapun potensi alam kita, belum dapat meningkatkan daya ekonomi Aceh.
Uang hanya berlimpah di tangan pemerintah. Namun gagal diproduktifkan. Sebanarnya pemerintah juga tak beda jauh dengan bisnis. Sama-sama mencari benefit. Walaupun tidak melulu benefit berupa laba finasial. Tapi pemerintah juga mencari benefit dalam fungsinya sebagai penyelenggara kepentingan umum.
Inilah anehnya pemerintah kita. Uang yang berlimpah seperti di APBA malah tidak membawa hasil maksimal untuk pembangunan daerah dan perekonomian masyarakat. Keuntungan yang berkelanjutan tidak terjadi dengan baik.
Uang yang banyak itu juga tidak juga bisa membuat pelayanan publik menjadi baik. Pelayanan publik amburadul. Uang APBA seperti “meukat eh lam ujeun“. Ini akibat para pemimpin kita lupa diri. Lupa pada esensi untuk apa dia berada di kursi empuk itu. Untuk apa rakyat memilihnya. Lupa akan janji politik. Lupa pada ucapan-ucapannya saat kampanye.
Pemimpin yang lupa diri. Sehingga merasa jabatan itu sepenuhnya milik dirinya, keluarga dan kroninya. Bayangkan sejak tsunami, Aceh berlimpah uang. Hasilnya? Tanah kita hanya menjadi objek bagi orang lain. Tanah kita dijual atas nama bencana. Tapi kita tetap miskin.
Usai urusan bencana, orang yang kita pilih kembali mengobral janji. Mereka tidak peduli sepahit apapun kehidupan rakyat. Mereka terlalu menikmati dilayani dengan segala kemewahan.
Ketika ada yang menyampaikan bahwa penduduk miskin makin banyak, apakah mereka peduli? Mungkin di mulut mereka iya. Tapi lihatlah tindakan mereka, apa kebijakannya? Apa mereka lakukan? Tidak ada, dan mungkin tidak akan ada.
Rakyat hanya dibutuhkan saat Pemilu. Selebihnya, rakyat adalah komoditas untuk diperjual belikan. Demi rakyat hanya ada diomongan. Di hati mereka sebaliknya. Aceh akan terus sakit. Selama para elitenya hanya para pengumpul rente. Rakyat dipaksa berjuang sendiri. Bagi elite, rakyat bak pepatah “mate kon lakoe, rugoe kon atra“.[]