Terlalu cepat memang apabila mengklaim bahwa Jantho sebagai kota para seniman.
Namun, para pencinta seni di Aceh Besar telah bertekat kuat untuk membangkitkan dan memajukan seni.
Dan, Aceh Besar merupakan pemilik beberapa tari yang terkenal, yakni Likok Pulo, Ratoh Taloe, dan Alee Lusong.
Likok Pulo itu setara Seudati dan Saman. Dan banyak lagi seni khas wilayah yang pernah menjadi pusat pemerintahan besar ini.
Kembali lagi klaim tadi. Selama beberapa tahun saya melihat pengkoordinasian seni, Aceh Besar baru setahun mendirikan DKA, tapi sudah membuka kemah seniman sebanyak dua kali. Pertama pada 2015 karena menjadi tuan rumah acara yang dibuat oleh DKA-yang mengklaim dirinya tingkat-propinsi, kali kedua dibuatnya sendiri, 2016.
Dari acara bergerak sejak awal, saya memperkirakan bahwa Dewan Kesenian Aceh Besar, akan menjadi acuan DKA di tempatkan lain, termasuk DKA yang mengklaim dirinya tingkat provinsi. -saya menyebutnya DKA Taman Budaya-. Karena sifat DKA itu otonom, tidak ada hirarki.
Ini yang tidak dimengerti oleh pengurus Dewan Kesenian Aceh Besar, bahwasanya dewan kesenian mereka otonom, dan tidak pernah melaporkan apapun pada DKA Taman Budaya. Mungkin karena baru, informasi tersebut belum sampai.