Setiap orang Islam selalu bercita-cita ingin menjadi orang bertaqwa, beramal saleh, masuk surga dan diangkat martabatnya oleh Allah Swt dengan berbagai kebaikan di dunia dan akhirat kelak.
Namun, keinginan mulia tersebut biasanya sering hanya sebatas ucapan saja dan tidak sejalan dengan realita dalam kehidupan sehari-hari, karena di saat yang sama justru banyak muslim yang sering terjebak pada perbuatan yang mengarahkan kita semakin menjauh dari amal saleh.
Demikian disampaikan Tgk H Muhammad Hatta Lc M.Ed (Pimpinan LPI Dayah Madani Al-Aziziyah Lampeuneureut Ujong Blang, Darul Imarah, Aceh Besar) saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu 3 Agustus 2016 malam.
“Semua kita kalau ditanya mau hidup senang dan bahagia dunia dan akhirat dan ingin masuk surga.
Tapi giliran diajak beriman dan beramal saleh, semuanya menghindar. Ngomong saja takut pada Allah, padahal tiap saat berkhianat pada Allah. Apakah ini karena hatinya sudah digembok, sampai-sampa tidak paham lagi kebenaran dan tujuan hidup di dunia,” ujar Tgk. Muhammad Hatta yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh.
Ulama muda yang akrab disapa Abiya Hatta ini juga menyebutkan, sahabat Rasulullah, Saidina Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan, kalau bukan karena lima perkara yang merusak di dunia ini, maka semua orang Islam akan berbuat kebaikan dan beramal saleh sehingga terangkat martabatnya di hadapan Allah Swt.
Pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidaktahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini yang tiap harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya mengejar harta kekayaan dan materi dunia.
Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ulama atau ustaz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.
Tidak ada dalam dirinya keinginan belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara salat dan wudhu yang benar.
“Tidak merasa khawatir kita bodoh dengn ilmu agama, salatnya dan bacaan Al-Fatihah salah tidak masalah. Ingin salat cepat dan tidak betah yang membuktikan kita belum cinta Allah. Padahal dekat dengan Allah saat sujud,” jelasnya.
Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman ataupun dari meniru tetangga. Paling-paling belajar keislamannya didapat dari tayangan televisi, tidak belajar ilmu agama secara khusus dengan sanad ilmu yang jelas.
Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu pengetahuan atupun kesibukannya mengurus berbagai urusan dunia.
Orang seperti ini seharusnya mengingat pesan Rasulullah Saw: “Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tetapi bodoh dalam urusan akhirat”.
Kedua, tamak atau terlalu cinta dengan dunia dan takut mati. Orang ini mau masuk surga, tapi tidak siap mati karena merasa banyaknya dosa dalam hidup ini. “Tidak siap mati/gelapnya alam kubur, itu sama juga tidak mau masuk surga,” jelasnya.