BANDA ACEH Sektor pendidikan ikut terdampak pendemi coronavirus disease 2019 (Covid-19). Proses pendidikan menjadi tidak efektif, belajar secara daring tidak bisa menggantikan posisi guru di kelas.
Hal ini terungkap dalam diskusi yang dilaksanakan secara virtual oleh Ombudsman Aceh, Rabu, 10 Juni 2020 yang menghadirkan narasumber antara lain Kepala Ombudsman Aceh Dr. Taqwaddin Husen, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Drs. Rachmat Fitri MPA, Kakan Kemenag Banda Aceh Dr. H. Asyari MSi, Kadisdik Banda Aceh Dr. Saminan Mpd.
Selain itu juga menghadirkan Ketua Komisi VI DPRA Tgk. H. Irawan Abdullah S.Ag dan Ketua Asosiasi Manajemen Pendidikan Islam Dr. Sri Rahmi selalu pengamat pendidikan. Diskusi dipandu oleh Ilyas Isti selaku moderator.
Kepala Ombudsman Aceh Dr. Taqwaddin Husen menilai, tidak efektifnya pendidikan selama Covid-19 karena berbagai kelemahan, seperti pengaruh jaringan internet, tidak semua wali murid memiliki smartphone, serta minat belajar yang rendah dari siswa.
“Selain itu, belajar secara daring hanya bisa diikuti oleh sebagian kalangan di kota. Selanjutnya, belajar secara daring tidak bisa menggantikan posisi guru di kelas. Dan murid lebih bersemangat ketika berinteraksi secara langsung,” jelas Taqwaddin.
Kadis Pendidikan Aceh, Rachmat Fitri juga tidak menampik terhadap konsisi pendidikan saat ini yang tidak efektif. “Catatan dari pihak Ombudsman akan menjadi perhatian bagi kami. Kita berharap, proses pendidikan tetap berjalan walau dalam keadaan apapun. Dalam kondisi upnormal seperti ini, kita berharap berbagai ide kreatif muncul untuk pembelajaran,” ujarnya.
Hal yang sama juga diakui oleh Ketua Komisi VI DPRA, Irawan Abdullah yang menuturkan bahwa pihaknya sedang membuat grand desain untuk pendidikan di masa new normal nantinya.
“Kita juga sedang mempersiapkan grand desain untuk pendidikan menuju ke arah new normal, ini kita lakukan bersama multi-stackholder. Perlu kami sampaikan bahwa, untuk saat ini, dana BOS bisa digunakan untuk proses pembelajaran secara daring. Jika kondisi ini berkepanjangan, maka kita sudah mempersiapkan beberapa solusi. Seperti pelatihan guru untuk proses belajar secara daring dan penambahan tower untuk daerah terpencil,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Kantor Kemenag Banda Aceh Dr. Asy'ari menjelaskan bahwa pihaknya tetap mengikuti petunjuk dari Kemenag. “Kami akan mengikuti petunjuk dari pihak Kemenag. Untuk pembelajaran new normal, mungkin dengan sistem belajar selang seling yang bertujuan untuk memperkecil jumlah siswa yang hadir,” ungkapnya.