TERKINI
TEUNGKU MENJAWAB

Moto BE yang Nyaris Punah

LHOKSEUMAWE - Bagi Anda yang tinggal di Aceh khususnya “Kota Juang” Bireuen dan wilayah Pase, mungkin tidak asing lagi dengan minibus yang akrab disebut “Moto…

RISKI BINTANG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

LHOKSEUMAWE – Bagi Anda yang tinggal di Aceh khususnya “Kota Juang” Bireuen dan wilayah Pase, mungkin tidak asing lagi dengan minibus yang akrab disebut “Moto BE” atau “BE”, singkatan dari “Bireuen Express”.

BE adalah angkutan umum berbentuk minibus yang sudah beroperasi sejak tahun 70-an. Di masa keemasannya, BE merupakan angkutan penumpang yang sangat digemari masyarakat Aceh. Kala itu, di terminal Bireuen (masih berada di bawah Kabupaten Aceh Utara), terparkir rapi puluhan BE yang siap diberangkatkan dengan rute tertentu.

Saat masa keemasannya itu pula perusaahan seperti CV Salam, CV Faham dan CV Cenderawasih berlomba-lomba meremajakan desain dengan mengubah bentuk depan BE mirip bus antarkota antarprovinsi (AKAP) nan unik. Tentu saja untuk memberi pelayanan terbaik kepada penumpang kala itu. Meski milik CV Cenderawasih, masyarakat tetap menyebut bus berbadan sedang itu “Moto BE“.

Besarnya peminat saat itu, trayek BE pun dibuka dari Bireuen ke Kuala Simpang, Aceh Tamiang, dan Bireuen-Sigli, Pidie hingga Bireuen-Kutacane, Aceh Tenggara. BE juga dipakai untuk mengantar rombongan “linto baro” dan “dara baro” (pengantin pria dan pengantin wanita)  sampai saat ini.

Minibus yang mampu menampung puluhan penumpang itu juga pernah dilengkapi televisi dan musik untuk memberi hiburan “alakadar” kepada penumpang.

Kini, munculnya beberapa angkutan umum dengan berbagai fasilitas keren seperti wi-fi berbanding terbalik dengan nasib BE yang semakin tua. Itu sebabnya, BE harus bersaing mati-matian mencari penumpang, apalagi sekarang juga banyak beroperasi mobil jenis L-300 yang sebagian di antaranya kerap mengambil penumpang untuk trayek seperti BE.

Ketatnya persaingan “merebut” penumpang membuat para sopir BE terpaksa menunggu berjam-jam menunggu penumpang.

Masa kegemilangan BE kian tenggelam. Peminat BE semakin berkurang. Banyaknya penumpang  yang beralih menggunakan kendraan pribadi dan memilih menumpang angkutan umum lain membuat nasib minibus ini makin memprihatinkan.

Zulkarnaen, 36 tahun, seorang warga yang sudah puluhan tahun menggunakan jasa angkutan BE mengaku sedih melihat kondisi BE saat ini. “Dulu saya pernah naik BE hingga ke Banda Aceh bersama keluarga. Penumpangnya masih ramai waktu itu, karena banyak rombongan yang memakai jasa BE seperti mengantar rombongan pengantin,” kata warga Juli, Bireuen ini.

“Kalau tidak salah, dulu ada puluhan BE yang berlalu lalang di lintasan Banda Aceh-Medan. Sekarang tinggal beberapa unit saja, mungkin karena sering banyak tersisa kursi kosong dalam BE, hanya terisi beberapa penumpang,” ujar Zulkarnaen.

Portalsatu.com sempat memantau sebuah BE yang menunggu penumpang di Simpang Selat Malaka, Cunda, Lhokseumawe, Sabtu, 16 Juli 2016, sore. Tampak seorang kernet yang tengah sibuk mengalihkan perhatian calon penumpang supaya berkenan naik BE yang akan berangkat.

Setelah 45 menit berlalu, BE itu belum juga diberangkatkan. “Sudah 45 menit menunggu penumpang, tetapi hanya empat penumpang yang sudah naik, perlu beberapa orang lagi untuk mengisi bangku-bangku kosong,” ujar Anif, 49 tahun, sopir BE itu.

Sambil menunggul penumpang, Anif pun bersedia berbagi sedikit cerita soal bagaimana susahnya belakangan ini mencari penumpang BE. “Saya sudah hampir 20 tahun menjadi sopir BE. Namun dalam tiga tahun belakangan ini penumpangnya susah, nyaris tidak ada penumpang,” ujar Anif.

Pria asal Kabupaten Bireun ini berkeluh kesah. Penumpang BE tidak seramai tiga, lima hingga 10 tahun silam. Banyak penumpang beralih ke angkutan umum seperti L-300 karena dianggap cepat sampai dan tidak menunggu lama di tepi jalan.

Ia mengaku  pedapatannya kian berkurang. Biasanya ia mendapatkan Rp100 ribu per hari. “Sekarang hanya 60 ribu, itu kita bagi dua dengan kernet,” kata Anif.

Menurut Anif, saat masa keemasan BE, ia sempat melayani trayek Bireuen hingga Kuala Simpang dan Bireuen-Banda Aceh. “Waktu itu penumpangnya penuh dan selalu ramai. Sekarang saya hanya bawa BE trayek Lhokseumawe-Bireuen dan Bireuen-Lhokseumawe. Itupun penumpangnya cuma beberapa (orang), tidak selalu penuh,” ujar dia meratap.

Anif berharap ada pihak yang memerhatikan nasib BE yang jumlahnya sudah tidak banyak lagi dan nyaris akan punah. “Semoga BE tetap beroperasi, tetap menjadi angkutan umum kebanggaan masyarakat Aceh seperti dahulu,” kata Anif penuh harap.[]

RISKI BINTANG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar