Oleh: Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Bulan syawal merupakan bulan kemenangan setelah sebulan penuh berjihad dalam beribadah pada bulan Ramadhan. Syawal juga bulan ibadah dan sebulan penuh merupakan hari raya. Salah satu ibadah yang menjadi ciri khas dalam bulan Syawal adalah silaturrahmi. Apabila kita bandingkan dengan bulan lain, di bulan Syawal inilah umat Islam paling banyak melakukan ibadah dalam bingkai silaturrahmi.
Hal ini dapat dibuktikan salah satunya dengan adanya mudik ke kampung halaman masing-masing untuk saling bermaafan dengan saudara dan tetangga serta masyarakat pada umumnya, terkadang tidak mudik,namun bersilturrahmi tidak langsung baik melalui kirim SMS, telepon, dan lain sebagainya. Sungguh Syawal menjadi bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan Allah karena umat Islam menguatkan ikatan silaturahmi diantara sesama.
Banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk bersilaturrahmi, dalam surat An-Nisa disebutkan :Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. An Nisaa : 1).
Dalam ayat lainnya juga diungkapankan: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS. Al Hujuraat : 10).
Banyak hikmah yang dapat dipetik dari silaturahmi itu, dengan bersilaturrahmi sifat egoism dapat kita redam dan kikis serta terjalinnya interaksi sosial dalam masyarakat. Sebuah silaturahmi memiliki maknayang sangat sacral khususnya dalam kehidupan seseorang dan umumnya bagi umat Islam secara keseluruhan. Silaturahmi menjadi poros yang mengokohkan banyak hal dan fenomena dalam masyarakat, mulai dari nilai integral (persatuan), perhatian, kasih sayang, mata pencaharian, rezeki hingga memudahkan seseorang memasuki surga-Nya.
Ini bukan hanya sebuah retorika, namundalambanyakhadist Rasulullah juga mengisyarahkan demikian sebagaimana sabda beliau: Barangsiapa yang suka dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, maka sambunglah silaturahim (HR. Bukhari). Dalam hadist lain disebutkan: Sesungguhnya Rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus keluarga (HR. Bukhari).
Dalam perspektif ilmu sosial dan ekbis (ekonomi dan bisnis), terjalinnya sebuah rangkaian silaturahmi merupakan menjadi bagian dari network yang akan memperluas jaringan seseorang. Semakin banyak silaturahminya maka jaringannya akan semakin banyak dan kuat sehingga memungkinkan baginya membangun relasi demi kepentingan tertentu.
Dalam ilmu dagang, semakin banyak jaringan, akan semakin banyak pembeli yang datang dan berminat untuk membeli produknya sehingga bertambah income (pemasukan) atau rezeki dan Rasulullahjuga menambahkan silaturrahmi itu dapat menyelematkan seseorang dari meninggal dengan suul khatimah, dalam sebuah hadist beliau bersabda: Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi. (HR Imam Bazar, Imam Hakim).
Pada kesempatan yang lain, baginda nabi juga bersabda : Belajarlah dari nenek moyangmu bagaimana caranya menghubungkan rahim-rahim itu, karena silaturahmi menimbulkan kecintaan dalam keluarga, meluaskan rezeki, dan menunda kematian. (HR Imam Tirmidzi)