Banyak cerita yang muncul kala lebaran tiba. Ada cerita sedih dan tentu juga tak sedikit cerita bahagia. Masyarakat muslim di berbagai belahan bumi pun mulai merayakan hari fitri tersebut. Begitu juga dengan mahasiswa-mahasiswa Aceh yang terpaksa merayakan hari fitri jauh dari keluarga tercinta.
Adalah Riski Aulia, salah seorang pemuda asal Lhokseumawe terpaksa harus merayakan Idul Fitri di Kairo, Mesir. Ia yang sedang menempuh pendidikan di kampus Al-Azhar itu pun harus rela melewati beberapa kali Idul Fitri di negri yang jauh dari kampung halamannya.
“Menye masakan mak tagun nyan ka pasti hawa. Man kiban ta peuget han jeut ta woe ile,” tulis Riski Aulia saat berkomunikasi dengan portalsatu.com melalui jaringan pribadi via jejaring sosial facebook, 7 Juli 2016.
Mengambil konsen Sastra Arab di Al-Azhar menjadi tantangan sendiri bagi Riski. Pasalnya ia harus bersabar untuk tak melihat kampung halaman dalam jangka waktu paling kurang 4 tahun. Namun bukan berarti ia tak bisa melepas kerinduannya dengan orang tua. Dengan majunya teknologi, ia pun mengakali setiap gawai agar bisa melepas rindu dengan kedua orantuanya.
“Jinoe kan mangat kon jet via maya bisa dari skype atau jaringan laen. Jadi komunikasi ngen ureung chik tetap terjaga,” ucap Riski.
Kerinduannya terhadap Aceh kadang juga terobati dengan perkumpulan mahasiswa asal Aceh di Kairo. Dalam organisasi itu juga mereka merayakan hari Fitri bersama.
“Kamo hinoe na komunitas awak Aceh nan jih KMA (Keluarga Mahasiswa Aceh) hinoe keuh kamo peuget takbiran bareng di KMA,” kata dia.