TERKINI
TAK BERKATEGORI

Seberapa Pentingkah Keberadaan Rumah Sakit Regional di Aceh?

BANDA ACEH - Front Revolusioner Muda Aceh (FoRMA) bekerja sama dengan Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) menggelar buka puasa bersama sekaligus diskusi pada Kamis, 23 Juni…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

BANDA ACEH – Front Revolusioner Muda Aceh (FoRMA) bekerja sama dengan Aliansi Mahasiswa Aceh (AMA) menggelar buka puasa bersama sekaligus diskusi pada Kamis, 23 Juni 2016 bertempat di Serambi Cafe, Pangoe, Banda Aceh.

Dalam diskusi yang mengangkat tema “Seberapa Penting Rumah Sakit Regional di Aceh” tersebut, turut hadir sebagai pemantik diskusi Wakil Ketua II DPRA T. Irwan Djohan, Kadis Kesehatan Aceh yang diwakili Kabid Program dr. Hanif, tokoh pemuda Aceh Suaidi Sulaiman atau Adi Laweung,  serta aktivis mahasiswa Aditya Milladul Mubaraq.

Dalam pemaparannya, Bang Irwan, sapaan akrab T. Irwan Djohan menuturkan, pada prinsipnya legislatif dan eksekutif sudah sepakat dengan pembangunan rumah sakit regional di Aceh. “Kita menunggu adanya kata sepakat dari eksekutif dalam hal ini gubernur dengan DPRA mengenai mekanisme pembiayaannya,” kata Irwan.

Koordinator AMA, Zulfikar menyebutkan bahwa pembangunan rumah sakit tersebut adalah kebutuhan primer masyarakat Aceh.

“Itu sudah menjadi tugas pemerintah untuk memastikan masyarakat dilayani dengan baik dalam hal kesehatan. Jadi, kami mengecam jika ada pihak yang ingin mempolitisir apalagi menggagalkan atau menunda-nunda rencana pembangunan rumah sakit tersebut,” katanya melalui siaran pers.

Senada dengan itu, Adi Laweung dalam diskusi tersebut menuturkan bahwa perjuangan mewujudkan rumah sakit regional di Aceh sudah dimulai sejak 4 tahun lalu. “Bahkan ketika saya masih menjadi anggota DPRK, lahan sudah dibebaskan untuk program tersebut. Lagi pula, coba bayangkan satu dokter menangani 30-40 pasien per hari. Kita harus merasa kasihan kepada mereka para dokter. Kalau begitu bisa-bisa dokternya kena stroke,” katanya.

Sementara itu, dr. Hanif, Kabid Program Dinas Kesehatan Aceh yang turut hadir dalam rapat koordinasi dengan Kementerian Keuangan yang dilaksanakan di Hotel Borobudur, Jakarta pada Rabu, 22 Juni 2016 kemarin mengungkapkan, Pemerintah Pusat sudah memberi lampu hijau terkait pinjaman dari salah satu bank di Jerman untuk pembangunan rumah sakit tersebut.

“Nantinya, setelah berdiri rumah sakit regional tersebut, RSUD Zainal Abidin juga akan di-upgrade dengan pembangunan Cancer Centre untuk penanganan pasien penderita kanker. Jadi, di Aceh akan ada 5 rumah sakit regional dan 1 rumah sakit rujukan provinsi,” katanya.

Koordinator FoRMA Iqbal Faraby di sela-sela buka puasa bersama menyampaikan, pembangunan rumah sakit regional tersebut tidak dapat ditunda lagi.

“Jika melihat realita pelayanan kesehatan di Aceh sekarang, rumah sakit regional tersebut adalah hal mendesak yang harus segera direalisasikan oleh pemerintah. Kekurangan fasilitas medis dan tenaga kesehatan di Aceh sudah dalam tahap mengkhawatirkan,” ujarnya.

“FoRMA sebagai wadah yang menampung gagasan para pemuda di Aceh tetap akan berada di garis kepentingan rakyat. Bahwasanya rumah sakit itu mutlak dibutuhkan. Dan oleh sebab itu, kami mengultimatum para pihak, jika dalam waktu dekat permasalahan ini semakin berlarut-larut, maka kami akan menurunkan massa untuk mengepung DPRA,” katanya.[](rel)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar