TERKINI
ACEH

Dari Banjir ke Krisis Air Bersih, Warga Aceh Utara Menanti Respons Pemerintah Empat Bulan Pascabencana

ACEH UTARA - Sudah berbulan-bulan setelah banjir bandang melanda, luka yang ditinggalkan belum sepenuhnya pulih. Di sejumlah wilayah di Aceh Utara, warga masih harus berjuang…

Redaksi Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA

ACEH UTARA – Sudah berbulan-bulan setelah banjir bandang melanda, luka yang ditinggalkan belum sepenuhnya pulih. Di sejumlah wilayah di Aceh Utara, warga masih harus berjuang untuk kebutuhan paling mendasar: air bersih.

Di Gampong Alue Bili Geulumpang, Kecamatan Baktiya, krisis air bersih masih dirasakan hingga kini. Jaringan air dari Perumda Tirta Pase belum normal, membuat warga terpaksa bergantung pada sumur galian yang kualitas airnya jauh dari layak.

Zulfikar, salah seorang warga Alue Bili Geulumpang, menggambarkan kondisi yang mereka alami. Ia menyebut dari empat dusun di gampong itu, hanya satu yang aliran airnya “hidup-mati”, sementara tiga dusun lainnya sama sekali tidak mendapatkan pasokan air.

“Sudah lima bulan (lebih empat bulan) kami kesulitan air bersih sejak banjir. Air PDAM (Perumda) tidak jalan, terpaksa pakai air sumur untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan lain,” kata Zulfikar, dalam keterangannya, Sabtu, 4 April 2026.

Untuk air minum, kata Zulfikar, sebagian warga harus merogoh kocek lebih dalam dengan membeli air isi ulang. Namun, kebutuhan harian lainnya tetap bergantung pada air sumur yang keruh. Kondisi ini semakin diperparah dengan cuaca panas yang mulai mengeringkan sumur-sumur warga.

“Kami sudah sering menyampaikan keluhan, baik melalui media maupun secara langsung kepada pihak Perumda. Tapi sampai sekarang belum ada solusi nyata,” ujar Zulfikar.

Situasi serupa juga terjadi di Gampong Matang Seuke Pulot, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Di gampong itu belum terjangkau jaringan pipa Perumda Tirta Pase, sehingga warga sepenuhnya mengandalkan air sumur untuk bertahan hidup.

Jamaluddin, warga setempat, mengaku harus menggunakan air sumur keruh untuk berbagai keperluan. Bahkan, untuk mencuci pakaian berwarna putih pun menjadi sulit dan tidak dapat digunakan sumber air tersebut.

“Kalau cuci baju putih tidak bisa, karena airnya sangat keruh. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada sumber air lain. Kami berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara segera turun tangan dan mengambil langkah konkret terkait persoalan ini,” kata Jamaluddin.

Untuk itu, Jamaluddin mendesak Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, untuk lebih serius menangani krisis air bersih yang tidak kunjung selesai sampai saat ini.

“Bagi warga, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan harapan untuk hidup yang lebih layak setelah bencana banjir bandang,” ungkap Jamaluddin.

Direktur Teknik Perumda Tirta Pase, Ferry Syahputra, dikonfirmasi sumatrapost.com/, Sabtu (4/4), belum memberikan respons terkait penyebab terkendalanya pasokan air bersih di wilayah Kecamatan Baktiya.[]

Redaksi
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar