Oleh Taufik sentana*
Sejak tahun 1978 barulah diadakan seminar Psikologi Islam di Riyadh, Saudi Arabia. Kegiatan ini sebagai konter terhadap mulai menjamurnya kajian dan kertas-kertas ilmiah psikolgi Barat, baik itu Psikoanalisa, Behaviorisme, Eksintensialisme dan sebagainya. Padahal, jauh sebelum perkembangan mereka, (600 tahun sebelum Eropa maju ) beberapa ahli fikir Islam telah meletakkkan dasar dasar “Psikologi” yang lebih utuh dan padu serta sejalan dengan fitrah kemanusian sebagai makhluk Allah SWT.
Maka sejak tahun 1978 tadi, mulai berkembanglah upaya untuk mengenalkan Psikologi Islam ke khalayak dunia. Para pemikir muslim menguji kembali asumsi asumsi Psikologi Barat. Diantara mereka adalah Alsyarqawi dan Malik Badri. Sedangkan di Asia Tenggara dipelopori oleh Hasan Langgulung, Alm. (Prof Terbaik, berkebangsaan Indonesia. 1934-2008).
Menurut catatan kerja Hasan Langgulung (1990), ada beberapa kritik dasar yang ditujukan pada Psikologi Barat.
Pertama, materi kajian Psikologi Barat yang kita pelajari tidaklah memgkaji jiwa. Tetapi hanya mengkaji tingkah lakunya. Apakah jiwa itu ada dan apa, serta darimana asalnya tidak menjadi bahan kajian mereka. Psikologi secara maknawi identik dengan Ilmunnafsi dalam pandangan Islam.Setidaknya ada 300 lebih kata “nafsu” dalam kitab suci Alquran. Demikian pula kaitannya dengan qalbu, ruh dan akal. Beberapa ahli fikir muslim berbeda pendapat tentang definisi masing masing unsur di atas, termasuk pula golongan tasawuf. Berdasar ini maka tampak memang bahwa Psikologi Barat memang menghindarkan diri dari kajian kerohanian manusia (beberapa pemikir modern barat kini telah menggunakan kata “titik Tuhan” dalam kerja kognitif manusia).