TERKINI
BLOG

Karena Ibu Aku Rela Jadi Istri Kedua

Panggil saja aku Sarah. Seorang perempuan yang sedang diliputi kebahagiaan karena pada akhirnya bisa menjadi seorang ibu. Di usiaku yang belum genap kepala tiga, aku…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.5K×

Panggil saja aku Sarah. Seorang perempuan yang sedang diliputi kebahagiaan karena pada akhirnya bisa menjadi seorang ibu. Di usiaku yang belum genap kepala tiga, aku sudah menikah dan kini memiliki seorang bayi.

Aku merasa hidupku telah 'sempurna' sebagai seorang perempuan. Ya, menikah dan punya anak, bukankah dua hal yang selalu diidamkan perempuan di dunia ini?

Tapi sebenarnya kesempurnaan itu hanyalah di permukaannya saja, bagai toping di sepiring pizza yang lezat dan menggiurkan. Kesempurnaan yang ingin segera dirasakan semua orang. Tapi bagiku sendiri, kesempurnaan itu sangatlah sukar untuk kuterjemahkan. Aku telah menukar banyak hal untuk mendapatkan semua itu. Entah sudah berapa liter air mata yang tumpah hanya untuk sebuah 'kesempurnaan' itu.

Usiaku baru 26 tahun saat seorang tetangga memperkenalkanku pada seorang pria. Sebut saja namanya Indra. Usianya terpaut 20 tahun denganku. Ia bekerja sebagai konsultan pajak dengan penghasilan yang lumayan. Di usiaku yang sudah genap seperempat abad, tentu saja aku menginginkan hadirnya seorang lelaki yang bisa menikahiku. Yang bisa menjadi imam. Dengannya aku akan mewujudkan mimpi-mimpiku yang banyak. Menjadi ayah dari anak-anakku nantinya.

Tetapi Indra tidak memenuhi impianku tentang sosok suami ideal. Yang menjadi permasalahan bukanlah usianya yang terpaut begitu jauh. Karena jujur saja aku lebih menyukai pria yang matang dan dewasa. Tetapi status Indra yang sudah menikahlah yang membuatku tak bisa menerimanya. Sungguh, tak pernah terlintas di benakku menjadi istri kedua atau menikah dengan lelaki beristri.

Aku boleh saja punya kriteria tentang suami idaman. Tapi walau bagaimanapun, aku ini adalah seorang anak, di mana orang tua -ibuku- punya hak prerogatif dan bisa memvetoku tentang ini dan itu. Termasuk soal Indra. Penghasilan Indra yang lumayan ternyata membuat ibu dan kakakku silau. Mereka memaksaku menerima lamaran Indra.

Aku menolak, tentu saja. Karena jika menikah dengan Indra itu artinya aku tidak punya kejelasan identitas di mata hukum. Aku juga harus berkorban banyak perasaan. Membayangkan hidup jauh dengan suami saja sudah membuatku ngeri dan takut.

Tapi penolakanku tidak membuat ibu luluh. Beliau terus membujukku. “Nikah sirri juga tetap nikah kan, emang kamu mau nunggu yang kayak gimana lagi, kalau menurut mama mumpung ada yang niat serius dan baik juga orangnya.” Begitulah suatu ketika ibu pernah membujukku.

Baca selengkapnya >>>

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar