TERKINI
NEWS

Reportase Tengah Malam Kota Madani

BANDA ACEH – "Banda Aceh  Model Kota Madani", begitulah bunyi kalimat yang sangat familiar beberapa tahun terakhir. Kalimat tersebut adalah visi Pemerintahan Kota Banda Aceh…

ADI GONDRONG Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 6.8K×

BANDA ACEH – “Banda Aceh  Model Kota Madani”, begitulah bunyi kalimat yang sangat familiar beberapa tahun terakhir. Kalimat tersebut adalah visi Pemerintahan Kota Banda Aceh sejak 2012 silam. Di bawah komando wali kota wanita, Banda Aceh digadang sebagai model Kota Madani yang menerapkan syariat Islam di berbagai aspek. Namun, ada yang berbeda tengah malam tadi.

Malam sudah begitu larut, kalender telah menunjukan tanggal baru yakni 21 Mei 2016. Padahal baru satu jam yang lalu kalender di ponsel saya menujukkan tanggal 20 Mei. Jam dinding sudah mununjukan pukul 01.00 WIB dinihari. Suasana di jalan terasa makin senyap, hanya satu persatu kendaraan berlalu begitu saja.

Hujan yang mengguyur Banda Aceh beberapa jam lalu menjadikan suasana kian hening serta dingin. Bersiap meninggalkan kedai kopi, kami pun mulai menelusuri jalanan untuk kembali ke rumah. Perjalanan begitu santai karena jalanan sangat sepi. Akan tetapi tiba-tiba di Jalan P. Nyak Makam, Lampineung, terlihat sekumpulan orang. Penasaran, kami pun menghentikan sepeda motor untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Dasar kau lonte,” teriak seorang perempuan yang tergolong masih remaja menyita perhatian kami. Remaja itu menunjuk seorang perempuan lainnya yang berada tepat di depannya.

“Kau itu yang lonte,” balas perempuan yang lain. Pakaian super ketat yang mereka kenakan menampakkan auratnya. Beberapa bagian yang seharusnya tertutup malah terlihat sempurna. Dengan dibungkus kaos ketat dan celana jeans, mereka tampil sangat berani. 

Dalam kelompok itu terlihat sekira 15 orang yang terdiri antara laki-laki dan perempuan. Dapat ditaksir umur mereka rata-rata masih di bawah 20-an, bahkan ada beberapa yang perempuan masih remaja. Ada enam perempuan yang terlihat, tanpa penutup kepala dengan tubuh terbungkus pakaian super ketat.

“Ngak ada apa-apa, bang,” ucap salah seorang pria saat melihat kami tiba-tiba berhenti melihat pertunjukan tersebut. “Udah, bubar-bubar semua,” teriak pria itu kepada kerumunan kawannya.

“Sayang ayo naik ke sini,” kata pria lain kepada seorang gadis yang juga tanpa penutup kepala itu untuk naik ke sepada motornya.

Mengira hanya aksi kecil, kami pun melanjutkan perjalanan. Berselang beberapa saat, tepat di depan kantor Gubernur Aceh, “pertunjukan” serupa kembali terjadi dengan “aktor” dan “aktris” yang sama.

“Dasar lonte,” teriakan kotor itu muncul lagi. Kali ini dengan dibumbui adegan tarik menarik antara dua perempuan. Kami kembali berhenti untuk melanjutkan menonton “pertunjukan” yang tertunda.

Berbagai macam umpatan kotor ke luar begitu saja. Mayoritas kata-kata tersebut muncul dari kaum hawa yang ditaksir masih berusia sekolah. Tiba-tiba seorang pria ke luar dari mobil hitam yang sejak awal berada di depan kerumunan tersebut. Beberapa wanita yang berpakaian seksi itu ditarik masuk ke dalam mobil hitam berplat BK.

Salah seorang pria melihat kami seraya berkata. “Maaf, bang, ngak ada apa-apa ini,” kata dia dengan suara sedikit bergetar. Selang beberapa detik, mobil itu pergi dan diikuti iringan sepeda motor.

Malam semakin larut, udara makin dingin. Gerimis mulai turun lagi. Takut hujan semakin deras kami pun pergi meninggalkan lokasi dan tak berniat untuk melanjutkan menonton kembali “pertunjukan” tersebut yang mungkin saja akan berlanjut di lokasi lain. 

Salah seorang teman saya dari Lhokseumawe baru tiba di Banda Aceh pagi tadi bertanya, “Pu nyan bunoe?” Saya yang sudah hampir empat tahun tinggal di Banda Aceh tak mampu menjawab. Dengan gelengan kepala saya pun menanggapi, “Hom pane ta tupu.” Dalam hati, saya ingin mengatakan padanya, “Selamat datang di Kota Madani”.[](tyb)

ADI GONDRONG
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar