Kehadiran bus Trans Koetaradja (TransK) menambah suasana baru di Banda Aceh. Siswa, mahasiswa hingga masyarakat umum ramai-ramai menjajalnya. Sebagian besar penumpang tak ada tujuan pasti alias asal naik. Mereka rela menghabiskan waktu hingga dua jam hanya untuk berkeliling ibu kota provinsi Aceh.
Sejak resmi mengaspal di jalanan Banda Aceh, bus TransK menjadi alat transportasi yang hampir tak pernah kosong. Setiap halte yang ada di koridor selalu ramai. Tumpukan penumpang terlihat di setiap jalur yang dilaluinya terutama saat siang hari atau jam istirahat. Mereka ingin menjajalnya karena penasaran dengan suasana di dalam bus, terlebih setelah foto ramai tersebar di media sosial.
“Penumpang sekarang masih ramai yang coba-coba. Mereka naik tidak ada tujuan pokoknya asal naik,” kata seorang kernet bus TransK, Herizal saat ditemui detikcom, Rabu (18/5/2016).
Saat detikcom menjajal bus TransK melihat sebagian penumpang naik dari satu halte kemudian turun di halte lain. Mereka kemudian berganti bus dan turun di halte semula. Para penumpang ini naik berombongan. Setelah puas mengabadikan momen selama di bus, mereka turun dan kemudian melanjutkan aktivitas kembali.
Dalam beberapa hari terakhir, muncul seloroh terkait ramainya warga memilih naik bus tersebut. Bunyinya kira-kira “Kalau ada yang nanya di Banda lagi musim apa? Bilang aja lagi musim naik bus TransK sambil selfie.” Foto-foto yang diambil di dalam bus memang banyak muncul di media sosial.
Seorang mahasiswa Fisip Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Fajri Agustin, mengatakan, ia memilih naik bus TransK untuk coba-coba karena penasaran suasana di dalam bus. Ia menjajalnya dengan berkeliling dari kampus di Darussalam hingga terminal Keudah (pusat kota) dan kembali ke kampus.
“Sangat nyaman. Kalau rumah saya dekat dengan halte saya akan milih naik bus ini saja,” kata Fajri.
Suasana di dalam bus memang sangat bersahabat. Adem, dan nyaman. Penumpang laki-laki dan perempuan dipisah. Begitu naik, kernet langsung mengarahkan wanita untuk duduk di deretan depan sedangkan pria ke belakang. Di sana, juga ada ada aba-aba yang ditempel di kaca yang menunjukkan arah duduk sesuai jenis kelamin. Meski demikian, ada juga penumpang yang tidak mengindahkan imbauan tersebut.
Para penumpang menyambut baik upaya pemisahan pria dan wanita ini. Rachmad Ramadhany, seorang penumpang TransK, mengatakan, pemisahan ini sangat bagus terlebih provinsi Aceh sudah lama menerapkan syariat Islam. Pemisahan tersebut juga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama berada di dalam bus.
“Ini jadi upaya untuk menghindari tindakan jail dan pelecehan terhadap perempuan. Selain itu juga untuk memberi rasa aman,” kata Dhany.
Selama berada di dalam bus, penumpang yang menjadi prioritas untuk duduk yaitu orang lanjut usia, wanita hamil, penyandang disabilitas dan ibu yang membawa anak. Sedangkan yang lain harus berdiri. Di dalam bus, juga disediakan tempat untuk kursi roda. Sejumlah petunjuk tersedia di sana.
Di saat berhenti di setiap halte, ada pengumuman yang mengingatkan agar penumpang berhati-hati dan mengecek barang bawaan agar tidak ada yang tertinggal. Begitu pintu terbuka, kernet mengatur dengan memprioritaskan penumpang yang ingin turun terlebih dulu. Setelah itu, baru penumpang dari halte naik.
“Bus ini sudah dilengkapi dengan fasilitas AC sehingga membuat para penumpang merasa nyaman,” ungkap Dhany.
Suasana di dalam bus, kata Dhany, mirip dengan bus yang dikhususkan untuk mahasiswa yang menimba ilmu di National University of Singapore (NUS) Singapura. Bentuk bus juga tidak jauh beda. Hanya saja, di NUS bus tersebut hanya mengaspal dilingkungan kampus.
“Bus TransK mirip banget dengan bus di NUS. Saya sudah mencoba kedua bus tersebut dan hasilnya tidak mengecewakan,” ungkap Dhany.
Mulai Senin (23/5) mendatang, penumpang yang ingin mencoba naik bus sudah harus menggunakan kartu Brizzi. Kartu tersebut dijual seharga Rp 20.000 ribu dan di dalamnya sudah ada saldo sebesar Rp 5.000. Untuk setiap kali naik, dipotong saldo Rp 1 rupiah untuk pelajar dan Rp 2 untuk masyarakat umum.
Di dalam bus kini sudah tersedia dua tempat gesek kartu. Hal ini dilakukan untuk mendata jumlah penumpang yang naik setiap hari. Selama ini, tidak diketahui jumlah penumpang karena tidak ada pendataan khusus.
“Kita mau lihat berapa orang yang naik setiap hari. Selama ini selalu ramai tapi jumlahnya tidak tahu,” jelas Herizal, kernet bus.
Bus TransK resmi mengaspal sejak 2 Mei lalu. Peresmian pengoperasian dilakukan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, di Halte Simpang Keuramat, Jalan Daud Bereueh, Banda Aceh. Hingga kini, baru aktif koridor satu yaitu dari Terminal Keudah hingga ke Darussalam atau lingkungan kampus. Sebanyak 10 bus melayani rute tersebut setiap hari mulai pukul 06.30 hingga 18.00 WIB sore. Sedangkan 15 bus lagi berada di terminal Batoh.
Saat peresmian, Zaini berharap dengan beroperasinya bus tersebut sehingga mahasiswa yang ingin berangkat ke kampus dapat memilih naik bus. Hal ini selain untuk mengurai kemacetan juga agar lebih aman.
“Dengan naik bus, keamanan dan keselamatan lebih terjamin dibandingkan naik motor,” kata gubernur Aceh.